Rasulullah dan Para Delegasi Asing

Pertanyaan: Pasca Fathu Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut delegasi yang datang dari berbagai kabilah dan negara

Pertanyaan: Pasca Fathu Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut delegasi yang datang dari berbagai kabilah dan negara tetangga dengan sangat baik. Beliau memuliakan tamu-tamu tersebut dengan penuh ketulusan. Selain itu, Beliau juga ingin agar kebiasaan ini dapat menjadi budaya yang diterapkan oleh para pengganti setelahnya. Beliau senantiasa mengulang-ulang permintaan ini di saat-saat terakhir hidupnya sebagai bagian dari wasiatnya. Lantas apa hikmah dari hal tersebut? Pelajaran apa saja yang dapat kita petik darinya jika kita menafsirkannya dari perspektif masa kini? [1]

Jawaban: Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya menjadi titik perhatian bagi kita semua pada saat ini. Untuk itu, kita harus benar-benar menjalankannya dengan baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menjamu delegasi tamunya, tetapi Beliau juga memberi perhatian di level tertinggi bagi mereka yang mau mempelajari dan memeluk agama Islam. Misalnya, ketika tokoh-tokoh Mekkah seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Utsman bin Talhah datang ke kota Madinah, demikian istimewanya Rasulullah menjamu dan mengistimewakan mereka, yang bahkan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhum pun belum pernah menerima keistimewaan tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidina Khalid, “Aku heran, bagaimana mungkin sosok jenius seperti Khalid tetap bertahan dalam kekufuran.” Tak lama berselang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyematkan lakab “Pedang Allah” kepada Sayyidina Khalid.

Amr bin Ash adalah sosok yang selalu berbuat buruk kepada umat Islam. Sosok ini selalu menggunakan kejeniusannya untuk melawan Islam. Akan tetapi, ketika beliau menjadi seorang Muslim dan datang ke kota Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambutnya dengan penuh kehangatan dan kemuliaan. Beliau tidak pernah mengungkit masa lalunya walau sekecil apapun. Sebagai jawaban dari permohonan doanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Tidak tahukah kamu bahwa Islam menghapus dan membersihkan semua dosa yang pernah dilakukan seseorang sebelum masuk Islam.”

Ketika Sayyidina Abdullah bin Jarir al-Bajali radiyallahu ‘anhu masuk ke dalam majelis Rasulullah, Beliau memberi isyarat agar salah satu jemaah berdiri dan memberikan tempat duduk kepada Sayyidina Abdullah bin Jarir al-Bajali radiyallahu ‘anhu. Ketika tidak ada jemaah yang memahami isyaratnya, Beliau lekas bergerak dan melepas jubahnya untuk dijadikan sebagai alas duduk Sayyidina Abdullah bin Jarir al-Bajali. Rasulullah lalu menyampaikan nasihatnya yang abadi tentang kewajiban menyambut dan memuliakan pemimpin suatu kaum. Cara Rasulullah menjamu Ikrimah putra Abu Jahal dengan kata-kata penuh pujian adalah pelajaran penuh hikmah lainnya yang Beliau tunjukkan kepada kita.[2]

Ya, kebiasaan Rasulullah ini adalah prinsip-prinsip yang takkan pernah berubah. Cara Rasulullah menyambut individu dan tamu delegasi yang datang kepadanya dalam bingkai prinsip-prinsip di atas sesungguhnya memiliki banyak tujuan penuh hikmah di dalamnya. Yakni:

Pertama: Jika orang-orang yang baru saja masuk Islam, yang masih belum merasakan kehangatan Islam dan berada dalam fase ketidaknyamanan serta kecemasan itu tidak menemukan sosok yang hangat penuh rasa aman yang dapat menyelamatkan mereka dari kecemasan tersebut, maka bisa saja mereka akan menggunakan preferensinya dengan cara lain yang dapat merugikan mereka. Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan perhatiannya, bahkan kepada orang yang keinginan berislamnya masih sangat kecil. Perhatian Rasulullah kepada mereka telah menyelamatkan mereka dari mengambil keputusan yang salah. Hal itu merupakan prinsip penting yang harus diperhatikan dengan baik di masa kini maupun di masa mendatang.

Kedua: Di antara anggota delegasi yang datang, selalu ada orang terhormat dan terpandang di kalangan mereka. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa dengan penghormatan dan perhatian semacam itu dalam kaumnya. Karena itu, kemuliaan dan penghormatan harus dipersembahkan kepada mereka dalam takaran yang sama, sehingga mereka tidak merasa asing ketika berada di lingkungan yang baru. Maksudnya, pemuliaan dan penghormatan ini seharusnya dapat menyingkirkan ketidaknyamanan yang dapat muncul dari lingkungan baru serta menjadi jaminan rasa aman bagi hati mereka.

Ketiga: Sebagian besar delegasi ini adalah utusan resmi. Ketika Islam diumumkan sebagai sebuah sistem pemerintahan, maka kabilah-kabilah dan negara-negara di sekitarnya mengirimkan delegasi ke kota Madinah untuk melakukan perundingan. Orang-orang yang berada dalam delegasi tersebut bukanlah orang biasa, kurang lebih hampir semuanya memiliki wawasan luas terkait dunia dan memiliki kemampuan mengevaluasi nilai-nilai dari sudut pandang mereka sendiri. Ketika orang-orang itu kembali ke tempat asalnya, mereka akan kembali dengan kesan yang mereka bawa. Pendapat mereka akan memengaruhi urusan-urusan di negara atau kabilah tempat asal mereka. Jika demikian, maka orang-orang ini harus diyakinkan dengan opini-opini yang positif. Hal ini tentu sangat bergantung pada penghormatan yang ditunjukkan kepada mereka dan penyampaian masa depan yang cukup menjanjikan.

Keempat: Akhlak dan karakter mulia Baginda Nabi telah dikenal dan diketahui oleh para Ahli Kitab. Karena akhlak dan karakter tersebut dijelaskan di dalam kitab-kitab mereka. Beberapa delegasi datang untuk menyelidiki kebenaran ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun percaya pada dirinya sendiri. Beliau adalah nabi yang diberitakan dalam kitab Taurat dan Injil. Beliau memandang bahwa orang-orang yang datang demi melihatnya dari dekat berarti telah menerima pesannya.

Ya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima mereka dari dekat seakan membantu mereka untuk dapat menyaksikan tanda-tanda kenabiannya. Dengan demikian, sikap dan tindak tanduknya yang penuh berkah itu telah mencabik-cabik berbagai macam keraguan dan juga kebimbangan. Sebagian besar dari mereka yang datang kemudian mengubah pandangan awalnya, untuk kemudian bersiap melaksanakan misi tablig di tempat asal mereka.

Penafsiran Hal Ini Demi Kebutuhan Masa Kini

Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa tidak ada satu manusia pun yang mampu meniru sikap Rasulullah ini dengan sempurna. Karena tidak ada manusia yang memiliki daya dan kemampuan untuk melaksanakannya. Bayangkan saja, Beliau adalah sosok yang mampu memanggul Al-Qur’an dengan segala keagungan dan kemuliaannya, yang bahkan tak mampu diemban oleh gunung-gunung. Kedua kakinya berdiri di tempat yang kokoh, sehingga tak ada satu pun peristiwa ataupun perlakuan yang mampu membuatnya berpaling dari prinsip-prinsipnya. Sedangkan pada diri kita masih terdapat banyak kelemahan yang bisa membuat kita jenuh dan frustasi. Membayangkan kelemahan seperti itu ada pada diri Rasulullah saja merupakan sebuah ketidakmungkinan.

Dalam hal ini, baik dalam hal kehangatan penyambutan Beliau kepada delegasi tamu maupun penerimaan dan pemaafan Beliau kepada tokoh-tokoh yang di masa lalu getol melakukan kesalahan fatal, kiranya tidak mungkin bagi kita untuk dapat melakukan hal yang serupa. Namun, kita tetap harus melakukan hal yang sama semampu kita. Jika tidak, maka kita bisa saja menempatkan wajah Hizmet yang telah dikenal baik di seluruh dunia pada level yang tidak semestinya, sehingga dengan demikian seakan kita telah mengkhianati Hizmet yang mulia ini.

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bimbingannya terkait kepekaan yang diperlukan dalam hal menyambut tamu dengan menjadikan hal itu bagian dari wasiat terakhirnya; serta hasil yang mungkin diraih di masa depan karena hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya hal ini untuk dilakukan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pada masa itu, pengaruh Rasulullah masihlah belum terlalu mencolok di sekitar Jazirah Arab. Surat dan hadiah dari beberapa kepala negara yang dikirimkan masihlah berupa penghormatan kepada sosok Beliau sebagai individu. Akan tetapi, di masa depan, Islam sebagai negara menyebar ke seluruh penjuru dunia, sehingga mengharuskannya menjadi tuan rumah dan menjamu ratusan/ribuan delegasi dari berbagai negara. Sebenarnya, hal itu merupakan bagian dari protokoler kenegaraan, namun sekali lagi, dasar fondasinya telah diletakkan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama 23 tahun masa kenabiannya, dalam skala mikro, tak satu pun masalah yang tak diselesaikan olehnya. Protokol menjamu delegasi pun hanya satu dari berbagai masalah yang berhasil Beliau tuntaskan.


[1] Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/prizma/peygamberimiz-ve-yabanci-murahhaslar

[2] “Maka Ikrimah masuk Islam dan datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu Penaklukkan kota Mekkah. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, Beliau langsung bangkit karena kegembiraannya. Beliau lantas memakai serban untuk membaiatnya. (At-Tamhid; Muwaththa’ Imam Malik)