Cinta dan Toleransi

Kita telah dibesarkan dalam suasana cinta; kemenangan cinta berada di pelupuk mata dan genderang cinta membahana dalam hati. Jantung kita berdetak dengan girang ketika melihat bendera cinta melambai-lambai. Kita menjadi begitu terjalin erat dengan cinta sehingga hidup kita sepenuhnya bergantung pada cinta, dan ketika kita mati, kita mati bersama cinta.

Cahaya Abadi: Muhammad Saw

“Zaman boleh menua dan lapuk, berbagai paham dan ideologi boleh membusuk dan remuk. Tapi kedudukan Rasulullah Muhammad Saw. akan selalu merekah di dalam hati kita bagaikan sekuntum mawar yang takkan pernah kuncup untuk terus menebarkan aroma semerbak dalam hati di sepanjang masa.” (M. Fethullah Gülen)

Buku sirrah nabi karya M. Fethullah Gülen ini amat berbeda dengan sirrah nabi sejenis yang pernah dibuat. kepiawaiannya mengemas pemaparan dengan pendekatan tematik menunjukkan betapa beliau telah mampu meletakkan tradisi baru dalam gaya penulisan sirrah nabi yang terfokus pada kajian-kajian dan analisis-analisis aspek kehidupan Nabi Muhammad Saw. Keahliannya dalam menganalisis literatur baik dari Al-Qur’an maupun Hadits mengantarkan buku ini tidak lagi pada corak penulisan sirrah secara kronologis, tapi juga menghindarinya dari kisah-kisah israiliyyat.

 

Memadukan Akal & Kalbu dalam Beriman

Islam Rahmatan lil A’lamin

Islam yang agung dan indah semakin terasa menemukan keindahan dan manisnya ketika dituturkan oleh Muhammad Fehulleh Gulen. Cedas dan logis, beliau jelaskan berbagai hal yang mendasar maupun keseharian kita sebagai muslim. Mulai dari hakikat Allah, faham ateisme, kenabian, mengapa ada yang kaya dan miskin, hingga masalah sensitif seperti perbedaan mazhab. Membaca kata demi kata buku ini kita diajak untuk memahami Islam yang diturunkan ke bumi ini sebagai rahmatan lil ‘âlamîn. Berbekal buku ini kita akan mampu menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang pemarah.

Membangun Spiritualitas Kita

Kita saksikan saat ini, di berbagai negara di dunia banyak individu yang seakan tenggelam dalam keterpurukan, hidup berlandaskan pada ideologi-ideologi buatan manusia, dan banyak yang terjerembab dalam kekosongan jiwa dan masa depan semu. Tidak sedikit negara yang terpuruk meski menyandang nama sebagai negara maju. Banyak pula individu yang hidup dalam jiwa yang rapuh meski jabatan dan kekayaannya melimpah. Ada di mana jiwa kita saat ini? Akan ke mana langkah kita ayunkan di antara bilangan waktu yang terus berjalan?

Sesungguhnya, setiap manusia yang fitrah ingin hidup dalam kebermaknaan yang dilandaskan pada ideologi sejati. Semuanya ingin bernaung di negara yang dibangun di atas fondasi yang kokoh. Di buku ini, dengan logis, dalam, dan universal, Fethullah Gulen memberi tuntunan kepada kita untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara. Inilah masa depan peradaban yang mulia, yaitu ketika hidup kita dilandaskan dan dibangun di atas fondasi dan naungan ajaran Islam. Bukan semata karena Islam telah mampu membangun peradaban dengan gemilang di masa lalu. Tapi, lebih dari itu, Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia, dan Islam akan selalu menjadi solusi di mana pun dan sampai kapan pun.

Dakwah: Jalan Terbaik dalam Berpikir dan Menyikapi Hidup

Buku yang ditulis oleh seorang yang mengabdikan dirinya di jalan dakwah ini akan memberi Anda pijakan mengapa dakwah penting untuk ditegakkan. Pada saat yang sama Anda juga akan menemukan tuntunan dan teladan pelaksanaan dakwah yang membuahkan hasil gemilang.

Dalam buku ini Anda akan menemukan;

Alasan kuat bagi penegakkan dakwah. Hal ini penting untuk memunculkan motivasi bagi tegaknya dakwah yang menjamin kejayaan suatu masyarakat/bangsa.

Tuntunan praktis agar dakwah berhasil gemilang. Hal ini penting agar dakwah Anda tidak seperti kata pepatah Arab, wujuduhu ka’adamihi (keberadaannya sama dengan ketiadaannya).

Teladan sukses berdakwah. Hal ini penting agar motivasi Anda semakin kuat dan cara dakwah Anda semakin efektif.

Dengan bahasa yang mudah dicerna dan uraian yang mengalir, buku ini sangat penting untuk dijadikan salah satu referensi dan pedoman berdakwah, bagi siapa pun. Karena pada hakikatnya, kita semua memiliki tanggungjawab untuk menegakkan dakwah.

Tentu, dakwah yang dilaksanakan bukan sekadar ada, tetapi dakwah yang mendatangkan manfaat.

Membangun Peradaban Kita

Problem terbesar yang terjadi pada umat Islam saat ini adalah ketika “demam kehidupan” begitu menggumpal sehingga tidak dapat mengalirkan panasnya untuk dapat menstimulasi jati diri mereka yang memiliki begitu banyak khazanah berharga dari keberadaan mereka, baik sebagai manusia maupun sebagai sebuah peradaban.

Lewat buku Membangun Peradaban Kita , Muhammad Fethullah Gulen berupaya untuk mengingatkan setiap muslim akan keberadaan khazanah yang sangat berharga itu, serta memotivasi mereka untuk mencari, menggali dan membangkitkan lagi khazanah tersebut sehingga Peradaban Islam kembali menghiasi dan menjadi spirit bagi kehidupan umat manusia.

 

Prisma