QADAR

Buku yang ditulis oleh pemikir Islam asal Turki ini menguraikan dengan sangat rinci dan jelas konsep takdir berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Baginya ketetapan Allah melalui takdirnya terbagai dua:

Pertama, ketetapan yang mutlak menjadi hak Allah, contohnya persoalan tangan yang hanya satu.
Kedua, ketetapan yang melibatkan menusia dalam menentukan pilihan meskipun keputusan akhirnya tetap berada di tangan Allah, contohnya soal kaya-miskin atau Islam dan non-muslim.
Pemahaman yang benar akan masalah qadar (takdir) amat penting, karena sangat terkait dengan persepsi dan sikap kita terhadap apa yang sudah kita miliki dan apa yang harus kita lakukan. Boleh jadi, kita akan terjerumus pada kekafiran atau bisa juga terjerembab pada sikap apatis atau liberal bila kita salah memahami makna qadar (takdir). Dan, buku ini akan membantu Anda menemukan pemahaman yang benar tentang qadar sehingga kita bisa mengetahui di tangan siapa nasib diri kita berada.

 

 

TASAWUF UNTUK KITA SEMUA

Bagi manusia, kalbu bukan saja istimewa tapi juga penting. Istimewa karena interaksi Allah subhanahu wa ta’ala dengan manusia terjadi di dalam kalbu. Penting karena kebaikan seluruh anggota badan manusia bergantung pada baik dan tidaknya kalbu. Karenanya, setiap diri kita berkewajiban menjaga kalbu agar tetap dalam fitrahnya. Salah satu jalan yang bisa kita tempuh untuk memelihara sekaligus meningkatkan kemampuan kalbu adalah tasawuf.

Di buku ini jalan tasawuf dijelaskan penulisnya melalui idiom-idiom yang berlaku dalam praktik sehari-hari para pelaku tasawuf, seperti: Taubah, muhâsabah, tafakur,khalwat, khauf, wara’, taslîm, dan yang lainnya.Penjelasannya didasarkan pada pengalaman pribadi penulisnya dan pengalaman orang-orang mulia yang juga menempuh jalan yang sama dari kalangan sufi-sufi besar yang tetap berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan pendekatan ini, pembaca bisa menemukan potret hakiki dari tasawuf seperti apa adanya. Dan, dengan cara ini pula siapapun diri kita bisa memahami tasawuf dengan sangat mudah. Karena memang tasawuf untuk kita semua.

Setiap kita memiliki kalbu. Setiap kita mempunyai kesempatan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan kalbunya. Dan, setiap kita diberi kemampuan untuk mengupayakannya. Pertanyaan besarnya adalah mau atau tidak kita menjalankannya. Dan, buku ini bisa menjadi bekal awal bagi kita menapaki bukit-bukit zamrud kalbu.

 

 

ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN

Islam yang agung dan indah semakin terasa menemukan keindahan dan manisnya ketika dituturkan oleh Muhammad Fehulleh Gulen. Cedas dan logis, beliau jelaskan berbagai hal yang mendasar maupun keseharian kita sebagai muslim. Mulai dari hakikat Allah, faham ateisme, kenabian, mengapa ada yang kaya dan miskin, hingga masalah sensitif seperti perbedaan mazhab. Membaca kata demi kata buku ini kita diajak untuk memahami Islam yang diturunkan ke bumi ini sebagai rahmatan lil ‘âlamîn. Berbekal buku ini kita akan mampu menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang pemarah.

 

 

BANGKITNYA SPIRITUALITAS ISLAM

Kita saksikan saat ini, di berbagai negara di dunia banyak individu yang seakan tenggelam dalam keterpurukan, hidup berlandaskan pada ideologi-ideologi buatan manusia, dan banyak yang terjerembab dalam kekosongan jiwa dan masa depan semu. Tidak sedikit negara yang terpuruk meski menyandang nama sebagai negara maju. Banyak pula individu yang hidup dalam jiwa yang rapuh meski jabatan dan kekayaannya melimpah. Ada di mana jiwa kita saat ini? Akan ke mana langkah kita ayunkan di antara bilangan waktu yang terus berjalan?

Sesungguhnya, setiap manusia yang fitrah ingin hidup dalam kebermaknaan yang dilandaskan pada ideologi sejati. Semuanya ingin bernaung di negara yang dibangun di atas fondasi yang kokoh. Di buku ini, dengan logis, dalam, dan universal, Fethullah Gulen memberi tuntunan kepada kita untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara. Inilah masa depan peradaban yang mulia, yaitu ketika hidup kita dilandaskan dan dibangun di atas fondasi dan naungan ajaran Islam. Bukan semata karena Islam telah mampu membangun peradaban dengan gemilang di masa lalu. Tapi, lebih dari itu, Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia, dan Islam akan selalu menjadi solusi di mana pun dan sampai kapan pun.

 

 

DARI BENIH KE POHON CEDAR

Seperti pohon cedar—tumbuhan asli Libanon—yang mampu hidup di tanah gersang menampilkan keindahan dan memberikan keteduhan, juga bisa berumur panjang menghadirkan manfaat di semua unsurnya, demikianlah gambaran ideal harapan orangtua terhadap anaknya. Siapa pun kita pasti berharap bisa memiliki keturunan yang tidak hanya berumur panjang, tapi juga bermanfaat dan berguna bagi dirinya, orangtuanya, dan lingkungannya. Bukan saja di dunia, bahkan hingga akhirat.

Semuanya berawal dari benih; dimulai saat kita memilih pasangan. Berikutnya ditentukan cara kita membangun dan membina keluarga dan pilihan pendidikan yang kita jalankan. Kita tidak menginginkan benih yang kita tabur berubah menjadi pohon zaqqum yang beracun. Kita ingin setiap benih yang kita tanam dan pelihara tumbuh menjadi pohon yang besar, berguna, dan bermanfaat.

Buku yang ditulis oleh cendekiawan muslim asal Turki ini akan menuntun kita menghadirkan generasi yang penuh manfaat. Kuncinya ada pada pemenuhan kebutuhan spiritual anak.

 

 

MEMBANGUN PERADABAN KITA

Problem terbesar yang terjadi pada umat Islam saat ini adalah ketika “demam kehidupan” begitu menggumpal sehingga tidak dapat mengalirkan panasnya untuk dapat menstimulasi jati diri mereka yang memiliki begitu banyak khazanah berharga dari keberadaan mereka, baik sebagai manusia maupun sebagai sebuah peradaban.

Lewat buku Membangun Peradaban Kita , Muhammad Fathullah Gulen berupaya untuk mengingatkan setiap muslim akan keberadaan khazanah yang sangat berharga itu, serta memotivasi mereka untuk mencari, menggali dan membangkitkan lagi khazanah tersebut sehingga Peradaban Islam kembali menghiasi dan menjadi spirit bagi kehidupan umat manusia.

 

 

DAKWAH

Buku yang ditulis oleh seorang yang mengabdikan dirinya di jalan dakwah ini akan memberi Anda pijakan mengapa dakwah penting untuk ditegakkan. Pada saat yang sama Anda juga akan menemukan tuntunan dan teladan pelaksanaan dakwah yang membuahkan hasil gemilang.

Dalam buku ini Anda akan menemukan;

Alasan kuat bagi penegakkan dakwah. Hal ini penting untuk memunculkan motivasi bagi tegaknya dakwah yang menjamin kejayaan suatu masyarakat/bangsa.

Tuntunan praktis agar dakwah berhasil gemilang. Hal ini penting agar dakwah Anda tidak seperti kata pepatah Arab, wujuduhu ka’adamihi (keberadaannya sama dengan ketiadaannya).

Teladan sukses berdakwah. Hal ini penting agar motivasi Anda semakin kuat dan cara dakwah Anda semakin efektif.

Dengan bahasa yang mudah dicerna dan uraian yang mengalir, buku ini sangat penting untuk dijadikan salah satu referensi dan pedoman berdakwah, bagi siapa pun. Karena pada hakikatnya, kita semua memiliki tanggungjawab untuk menegakkan dakwah.

Tentu, dakwah yang dilaksanakan bukan sekadar ada, tetapi dakwah yang mendatangkan manfaat.

 

 

CAHAYA ALQURAN BAGI SELURUH MAKHLUK

Tafsir Al-Quran Cahaya bagi Alam Semesta ini sungguh merupakan aktualisai ayat-ayat Al-Quran sebagai inspirasi solusi atas berbagai kondisi yang kita hadapi sehari-hari. Siapapun kita dan apapun peran kita, insya Allah Tafsir ini akan membantu membuka cakrawala pemikiran kita.

Coba simak dua contoh berikut ini,

Dan janganlah kamu membunuh dirimu , QS al-Nisa [4]: 29. Ditafsirkan, siapa saja yang berpihak kepada bisnis yang bathil dan zalim, termasuk juga mengeluarkan harta secara berlebihan atau menerima faham kapitalis atau liberalis, atau komunis atau paham apa saja yang membolehkan mendapat sumber rezeki dari cara yang tidak halal, maka menurut agama ia dinilai sebagai orang yang membunuh dirinya sendiri.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan QS al-Nahl [16]: 90. Ditafsirkan, keadilan adalah aturan yang paling hidup di dalam agama, bahkan sebagian ulama menganggap keadilan sebagai salah satu empat dasar yang terpenting dalam agama,arti keadilan adalah pengabdian, meskipun di dalam istilah manusia tidak ada pengertian seperti ini. Hakikatnya, seorang tidak dapat menunaikan kebaikan, kecuali ia harus mempunyai sifat adil dan kita tidak boleh memberikan kebaikan apa pun kepada kaum kerabat kita tanpa adanya perasaan keadilan.

 

 

CAHAYA ABADI MUHAMMAD SAW. 1

Sebuah buku yang merangkai berbagai peristiwa penting di sepanjang perjalanan hidup Rasulullah dengan kemasan dan teknik penyusunan yang unik. Sehingga penjelasan yang terdapat dalam buku ini menjadi dinamis, aktual, dan tidak menjemukan.

Buku ini merupakan jilid satu dari tiga jilid yang ada. Jilid ini memuat pendahuluan dan satu bagian pembahasan. Di bagian pendahuluan di antaranya diuraikan kondisi masyarakat sebelum kedatangan Muhammad Sang Pembawa Cahaya Abadi. Pada bagian pertama diuraikan tentang para nabi dan rasul; di dalamnya diuraikan seputar tujuan diutusnya para nabi, keistimewaan para nabi, dan sifat-sifat para Nabi.

 

 

CAHAYA ABADI MUHAMMAD SAW. 2

Sebuah buku yang merangkai berbagai peristiwa penting di sepanjang perjalanan hidup Rasulullah dengan kemasan dan teknik penyusunan yang unik. Sehingga penjelasan yang terdapat dalam buku ini menjadi dinamis, aktual, dan tidak menjemukan.

Buku ini merupakan jilid dua dari tiga jilid yang ada yang memuat bagian dua, tiga, dan empat. Pada bagian dua diuraikan tentang peran nabi Muhammad Saw. sebagai murabbi. Pada bagian ketiga diuraikan tentang Rasulullah sebagai pemberi solusi yang tak tertandingi, dan pada bagian keempat diuraikan tentang Rasulullah Saw. sebagai panglima angkatan bersenjata.

 

 

CAHAYA ABADI MUHAMMAD SAW. 3

Sebuah buku yang merangkai berbagai peristiwa penting di sepanjang perjalanan hidup Rasulullah dengan kemasan dan teknik penyusunan yang unik. Sehingga penjelasan yang terdapat dalam buku ini menjadi dinamis, aktual, dan tidak menjemukan.

Buku ini merupakan jilid tiga dari tiga jilid yang ada yang memuat bagian lima yang menjadi bagian terakhir dari pembahasan buku ini dan Apendiks. Pada bagian lima, diuraikan tentang kemaksuman para nabi dan Rasulullah Saw., dan pada bagian Apendiks diuraikan tentang As-Sunnah dan kedudukannya dalam syari’ah.