JALAN AGAR ANUGERAH ILAHI TERUS BERLANJUT

Tanya: Sebagaimana yang sering disampaikan, kita telah mendapatkan banyak sekali anugerah ilahi jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa dalam  perjalanan sejarah

Tanya: Sebagaimana yang sering disampaikan, kita telah mendapatkan banyak sekali anugerah ilahi jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa dalam  perjalanan sejarah sebelumnya. Apa tugas kita sebagai individu dan masyarakat agar anugerah ini terus berlanjut?[1]

Jawab: Kita sering menyebut rahmat yang dicurahkan Allah kepada kita sebagai bentuk “syukur atas nikmat” tersebut… Bahkan kita harus selalu menyebutnya. Bagaimana mungkin kita tidak mengingat-Nya, sementara kita adalah manusia yang hidup pada masa kekeringan, di mana tanah-tanah retak dan kering secara maknawi, bersimpuh merindukan turunnya setetes hujan. Sejak saat itu, berkat inayat dan anugerah Allah, kita bisa sampai pada hari ini. Memperoleh inayat dan anugerah Allah adalah suatu hal, akan tetapi menjaga keberlanjutannya juga sesuatu yang tidak kalah pentingnya.

Menurut pendapat kami, hal pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga keberlanjutan nikmat adalah dengan mempertahankan keistikamahan di jalan ini tanpa mundur satu langkah pun. Misalnya saat menyetel radio, pertama kita mencari saluran yang kita inginkan. Kemudian kita tetap berada pada saluran yang sudah kita tentukan tersebut dan tidak lagi memindahkan jarumnya ke saluran lain. Mungkin, kita hanya akan memindahkan jarum itu sedikit ke kiri atau kanan pada saluran tersebut, untuk mencoba menangkap gelombang yang paling jelas. Sama halnya dengan ini, maka kita harus menjaga sifat dan perilaku yang menjadi wasilah datangnya nikmat-nikmat tersebut, seperti: keprihatinan, doa dan aksi nyata, serta meningkatkan hal-hal khusus tersebut yang merupakan langkah awal bagi keberlanjutan datangnya rahmat dan karunia Allah.

Poin lainnya, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang paling ikhlas, paling bertakwa, paling zuhud, dan paling saleh dalam pekerjaan yang kita jalani. Dan tentunya dengan niat untuk selalu berusaha istikamah melakukannya seumur hidup. Sebaliknya, jika hal ini tidak kita lakukan maka ketika semangat jiwa untuk melakukan aksi nyata itu lenyap. Berbagai rintangan seperti yang dijelaskan pada artikel enam serangan[2] mutlak akan mengepung kita. Pada saat itu, kita dapat jatuh pada salah satu jerat rintangan-rintangan seperti misalnya virus ini dan tenggelam pada lingkaran keburukan yang tak berujung pangkal serta saling berhubungan erat satu sama lain itu. Dikarenakan adanya jaringan komunikasi yang begitu canggih di antara virus-virus mematikan ini, maka ketika salah satu virus berhasil menghancurkan pertahanan tubuh kita, seketika ia akan langsung mengirim sinyal “Ayo kalian ikutlah masuk”, pada virus lainnya. Sehingga, virus-virus ini seolah saling berkirim telegram satu sama lain untuk membangun kontak spiritual dan membentuk sebuah lingkaran keburukan yang penuh dengan kesia-siaan untuk mulai menghancurkan tubuh yang mereka masuki.

Jika kita menelaahnya lebih lanjut, virus rasa takut yang memasuki tubuh seseorang dapat mengundang datangnya virus narsistik. Ketika ketahanan tubuh mulai berkurang lagi, virus ketenaran yang menerima sinyal pun dapat masuk juga ke dalam tubuh… Pada akhirnya, tubuh sudah tak mampu lagi dipulihkan, semoga Allah menurunkan inayat-Nya..! Ya, tanpa anugerah dan inayat-Nya, mustahil bagi orang itu untuk bisa berdiri tegak kembali.

Kalau begitu, ketika di satu sisi kita berusaha mempertahankan limpahan anugerah yang diberikan Allah, maka di sisi lain, kita harus berusaha menaikkan derajat di hadapan Allah, dengan berkata ‘hal min mazid?’[3] agar berbagai rintangan tadi tidak menghampiri kita.

Ya, Setiap anugerah perlu disyukuri sesuai dengan jenisnya masing-masing. Seandainya Allah telah menganugerahkan kesadaran membangun iman bagi kita dan pada saat yang sama juga anugerah untuk menuntun iman bagi orang lain, bahkan jika Ia sering mengingatkan kita bahwa ini adalah tujuan hidup kita, maka anugerah ini juga akan meminta bentuk syukur dari jenisnya sendiri. Ya, inilah syukur dan keberlanjutan dari rasa syukur itu sendirilah yang akan menjadi sebab datangnya keberlanjutan anugerah-Nya pula. Allah azza wa jalla berfirman “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(Q.S. Ibrahim, 14/7). Coba perhatikan bahwa pada ayat ini Allah tidak berfirman “Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Aku akan menambah keingkaranmu”. Akan tetapi Allah berfirman “Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”, pada ayat ini diisyaratkan bahwa di satu sisi Allah mengundang kita ke jalan yang lurus, dan di sisi lain Dia menunjukkan cara untuk menjauhkan diri dari siksaan serta bagaimana cara memperoleh limpahan anugerah. Ya, layak bagi kita untuk membalas nikmat berupa kesadaran membangun iman melalui mensyukurinya dengan menjadi sebab hidayah iman bagi orang lain serta menanti limpahan hadirnya nikmat-nikmat baru lainnya. Insya Allah berkat hal ini keimanan kita akan bertambah dan membuat kita merasakan kedekatan yang lebih dengan Rabb kita… Ketika Ustaz Said Nursi menafsirkan ayat: “Mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S. Al-Baqarah, 2/3) beliau melakukan pendekatan secara umum dan menjelaskan bahwa: “Sebagaimana harta ada zakatnya, maka badan, ilmu, kemampuan menghafal, kemampuan mengambil keputusan, bahkan kemampuan beretorika pun ada zakatnya.” Segala sesuatu perlu diberikan haknya. Dengan demikian untuk keberlanjutan anugerah yang telah Allah berikan, adalah penting dan wajib bagi kita untuk bersyukur dengan syukur yang sesuai jenisnya.

Dalam hal ini, sebuah metode lain yang perlu untuk diikuti adalah; memastikan kontrol internal dengan jalan memerhatikan politik pintu terbuka terhadap satu sama lain. Sama seperti halnya seperti para sahabat yang mulia. Jika sedikit kita amati masa kehidupan para sahabat, kita akan sering menyaksikan bagaimana mereka saling berbicara jujur, tegas, dan terus terang satu sama lain. Jika kita mengambil kata-kata ini sebagai contoh untuk dipertimbangkan, maka kita bisa menerapkannya dalam lingkungan kita sesuai dengan keadaan masing-masing. Yakni, kita bisa meminta peringatan dengan berkata: “Wahai teman! Jika engkau melihatku jatuh dalam suatu masalah, maka genggam tanganku dan bantu aku untuk bangkit! Peringatkan aku dengan mengatakan ‘Kondisi apa ini yang terjadi denganmu?’ Dalam hal ini aku takkan membantahmu.” Dengan cara ini, kita bisa memilih seorang teman yang ketika kita terpuruk dan jatuh ke jalan yang tidak benar, ia bisa meluruskan kita dengan hak dan wewenang yang kita berikan kepadanya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustaz Said Nursi, poin penting dalam hal ini adalah “tidak merobek tirai pembatasnya”, yang maksudnya adalah perlu menjaga batasan dan takaran yang pas. Ya, saya pikir, orang yang memohon dan berdoa dengan pinta: “Ya Allah, janganlah Engkau tinggalkan diriku hanya bersama nafsuku saja walau hanya sekejap mata sekali pun”, harus menerima semua peringatan teman-temannya sebagai sikap “amri bil ma’ruf nahyi anil munkar” kepadanya. Seperti ketika Sultan Salahuddin Al-Ayyubi ataupun Nuruddin Zanki[4] yang mendapatkan peringatan dari orang biasa, atau Yavuz Sultan Selim dengan Zenbilli[5], maupun Kanuni Sultan Sulaiman dengan Abu Suud[6] dan mereka patuh ketika diperingatkan seraya berkata: “semoga Allah memberkatimu, jika engkau tidak memberi peringatan, maka aku akan terpuruk dan jatuh.” Lalu siapalah kita ini yang justru menutup diri terhadap peringatan-peringatan semacam itu dan mengambil sikap menentang orang-orang yang telah menunjukkan kesalahan-kesalahan kita?

Berarti, selama kita belum merubah diri kita sendiri, maka Allah tidak akan mengubah kita. Tetapi dalam proses perubahan diri ini, kita sangat membutuhkan sahabat-sahabat yang setia dan yang tak pernah meninggalkan kita sendirian saat melawan nafsu ammarah bissu’ (nafsu yang mengajak kita pada keburukan).


[1] Diterjemahkan dari artikel: http://fgulen.com/tr/eserleri/prizma/ilahi-lutuflarin-devami-yolunda

[2] Ustaz Said Nursi menulis bagian ke-29 kitab Maktubat bagian ke enam dengan nama “Hücumât-ı Sitte” (Enam Serangan) yang menjelaskan tentang enam bisikan setan dari golongan jin maupun manusia yang paling berbahaya  yakni rasa cinta pada ketenaran, rasa takut, keserakahan, rasa kesukuan yang berlebihan, rasa ego, dan kecintaan berlebihan pada diri sendiri (penerj.)

[3] hal min mazid? adalah ungkapan yang berarti apakah masih ada tambahan lagi? (penerj.)

[4] Nuruddin Mahmud bin Zanki atau yang lebih dikenal dengan Nuruddin Zanki adalah pemimpin sebelum Shalahuddin al-Ayyubi. Setelah Khulafa ar-Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz, sosok Nuruddin Zanki inilah yang dikenal sebagai pemimpin lurus dan tegas dalam penegakan keadilan. Tradisi keilmuan Islam dibangkitkan kembali dan ditempatkan di tempat yang mulia. Ia sadar betul, umat muslim tidak akan bangkit tanpa kembali pada nilai-nilai Islam, dikutip dari: https://www.uin-malang.ac.id/r/131101/nuruddin-zanki-dan-perang-salib.html

[5] Zenbilli Ali Efendi adalah alim besar dan wali yang selama 24 tahun menjadi Syaikhul Islam Usmani di masa pemerintahan tiga sultan: Sultan Bayazid II, Yavuz Sultan Selim, dan Kanuni Sultan Sulaiman. Di antara karyanya adalah: kitab fikih El-Muhtârât, Muhtasar-ul-Hidâye, Âdâb-ül-Evsiyâ dan Risâle fî Hakk-ıd-Deverân.

[6] Ebussuud Efendi ibn Muhammad ibn Mustafa el Imad, atau dikenal juga sebagai Hoca Celebi, adalah Syaikhul Islam (kepala bidang keagamaan Kesultanan Usmani) selama masa pemerintahan Sultan Sulaiman dan putranya, Sultan Selim II.