HIZMET DAN HUBUNGAN ANTAR MANUSIA

Pertanyaan:  Terkadang orang-orang yang berada di garda terdepan dan menunjukkan keseriusan tinggi dalam menjelaskan kebenaran dan hakikat, bisa saja

Pertanyaan:  Terkadang orang-orang yang berada di garda terdepan dan menunjukkan keseriusan tinggi dalam menjelaskan kebenaran dan hakikat, bisa saja dalam hubungannya dengan sesama manusia muncul beberapa persoalan seperti perkataan dan sikap yang mungkin menyakiti ataupun memaksakan kehendak kepada orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kita dapat menjaga keseimbangan dalam permasalahan tersebut?

Jawaban: Menderita dengan penderitaan yang dirasakan orang lain dan mengembangkan program-program baru untuk menyelesaikannya merupakan sebuah keutamaan yang sangat penting. Akan tetapi, nilai dari keutamaannya bergantung pada kadar keikhlasannya. Apabila seorang insan mengerjakan hizmet demi meraih pangkat jabatan ataupun imbalan tertentu, maka ia akan terburai seperti beterbangannya jerami saat perontokan gabah. Barangkali mereka yang mengerjakan kebaikan untuk umat manusia bisa saja dipuji, bisa saja namanya diabadikan menjadi nama suatu institusi, bahkan foto-fotonya dipasang di banyak tempat atau dibuatkan patung untuknya. Akan tetapi, apabila ia mengerjakan amal tersebut tidak untuk meraih rida ilahi, maka semua hal tersebut tidak akan memberikan manfaat untuknya. Oleh karena dia hanya mengharapkan pujian dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya, maka ia telah menerima ganjaran dari amal perbuatannya dan menghabiskannya di dunia ini saja.

Dengan kata lain, oleh karena dia telah mengambil imbalannya dari manusia, maka tidak tersisa lagi imbalan dari Allah untuknya. Al-Qur’an membahas hal ini dalam Surat Al-Ahqaf ayat ke-20: أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا yang artinya “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” Hadis sahih juga menjelaskan secara tegas bahwasanya barang siapa berjuang melawan musuh, sibuk dengan ilmu, dan mengeluarkan banyak infak, tetapi berharap imbalan selain rida Allah atas semua amalnya itu, maka ia akan merugi secara ukhrawi (Lihat HR Muslim Bab Imarah no.152, HR Tirmizi Bab Zuhud no. 48).

Semoga orang yang demikian, yang terjebak dalam kesempitan seperti itu, serta berlari di belakang tujuan duniawi belaka, insya Allah tidak ada dalam kumpulan para relawan yang mendedikasikan dirinya untuk mengabdi kepada umat manusia. Saya meyakini bahwa di antara jiwa-jiwa berdedikasi yang mengerjakan banyak pengabdian secara mati-matian tidak terdapat orang yang berpikir untuk keuntungan pribadi dan kehidupan duniawinya. Berkat izin Allah, ketika mereka menjadi kandidat sebagai orang-orang yang berhasil meraih rida Allah melalui pengabdian-pengabdian penuh kebaikan, di sisi lain mereka juga akan dikenang oleh generasi mendatang sebagai orang-orang yang mengabdi kepada umat manusia, meskipun mereka tidak berharap untuk dikenang.  Bahkan mereka sebagaimana dibahas di dalam hadis: اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ “barang siapa menjadi sebab sebuah kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pelaku kebaikan tersebut”, maka mereka pun akan mendapatkan banyak pahala disebabkan oleh jalan pengabdian kepada umat manusia yang mereka buka.

AKHLAK QUR’ANI DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA

Meskipun demikian, sebagaimana ditanyakan dalam pertanyaan tersebut, beberapa orang ketika mengerjakan pengabdian dalam bentuk terbaiknya, bisa saja mereka melakukan tindakan tidak terpuji yang bertentangan dengan akhlak seorang muslim. Misalnya, seseorang merancang program-program kebaikan atas nama hizmet dan meletakkan target-target tinggi di hadapan banyak orang. Pemikiran seperti ini sebenarnya baik dan tulus. Akan tetapi, ketika harapannya tidak tercapai, bisa saja ia  melakukan tindakan yang tidak diharapkan. Dia tidak memaafkan kesalahan sepele yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya; ia cepat marah disebabkan keterlambatan remeh; ia meluapkan emosi dan melukai perasaan orang-orang yang bersama-sama bekerja dengannya.

Demikianlah, tidak diragukan lagi bahwasanya seseorang selain memiliki sifat-sifat mukmin seperti berjuang di jalan Allah, ia juga bisa memiliki sifat-sifat orang kafir seperti berbuat zalim dan menyakiti perasaan orang lain. Al Quran ketika menjelaskan beberapa sahabat yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk menyampaikan bahwa para sahabat tersebut mencampuradukkan amal baik dengan amal buruk.  خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا “… mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk… (QS at Taubah 9:102)”.

Dengan demikian, orang-orang yang ditugasi mengelola dan memotivasi sekumpulan orang di bawah tanggung jawabnya, salah satu kriteria keberhasilannya dalam berhizmet adalah sensitivitas dalam hablum minannas. Ketika menyaksikan kekurangan dan kesalahan dalam pelaksanaan program, ia harus bisa berlapang dada. Ia harus bersikap penuh kasih sayang dan lemah lembut kepada orang-orang yang berhizmet dengannya. Sebisa mungkin, mengedepankan maaf. Semua itu adalah syarat utama dalam berakhlak islami. Sebaliknya, marah karena suatu sebab yang sepele, menyakiti hati orang-orang yang bekerja di sekitarnya, ketergelinciran sederhana sekalipun diperbesar seakan hal itu adalah dosa tak termaafkan, maka tak ada keraguan bahwasanya sikap tersebut dapat membahayakan hizmet bahkan sedari permulaannya. Karena orang yang demikian dapat mematahkan tangan dan sayap, mengguncangkan kekuatan maknawi, dan menjatuhkan kawan-kawan lainnya ke dalam keputusasaan.  Barangkali hal itu juga dapat menyebabkan sebagian orang menjadi tersinggung dan menjauh dari komunitas hizmet.

Masing-masing hal tadi merupakan bagian dari sifat kufur. Demikian banyaknya sifat-sifat kufur berkumpul dalam diri seseorang, semoga Allah azza wa jalla melindungi kita darinya. Amat sulit untuk menjaganya supaya bisa tetap istikamah di dalam Islam dalam jangka waktu yang panjang. Bediuzzaman berkata: ”Berhati-hatilah! Perhatikan langkahmu! Cemaslah jika kamu nanti tenggelam! Jangan sampai kalian bangkrut hanya karena satu suapan, satu kata, satu biji, satu kegemerlapan, dan satu tanda. Janganlah kau sungkurkan latifah-latifah agung ke dalam lahapan dunia!” Sebab-sebab kebangkrutan tersebut bisa ditambahkan dan Anda dapat berseru: ”Janganlah tenggelam dalam kekerasan, kemurkaan, dan kekalapan!”

Padahal kewajiban yang diamanahkan kepada para pemimpin adalah untuk  menambah motivasi orang-orang yang ada di belakangnya, melambungkan harapan mereka, dan dengan demikian menjaga hizmet yang mereka lakukan supaya lebih efektif. Mereka, tanpa perlu marah kepada orang lain, tanpa perlu mengungkit kekurangan dan kesalahan di hadapan orangnya, tanpa perlu mematahkan semangat, harus memiliki tekad untuk berhizmet serta melalui beragam teknik pembiasaan kemudian meyakinkan mereka untuk  menerima hizmet sebagai jalan hidupnya.

Hal itu di satu sisi membentuk pemikiran dakwah dan filosofi hizmet yang kokoh dari seseorang. Di sisi lain, ketika berhizmet, hal tersebut akan membentuk sikap, perilaku, penggunaan kata, dan bagaimana ia menjalin hubungan dengan kawan seperjuangannya. Jika seseorang dapat menampilkan keindahan dari pesan-pesan yang disampaikannya kepada orang lain serta mampu menjadi teladan, maka di waktu tersebut artinya ia berhasil mengumpulkan pada dirinya dua keindahan di satu waktu yang sama. Jika tidak, maka keindahan yang ada akan cacat. Untuk itu, orang yang demikian pertama-tama butuh untuk merehabilitasi dirinya sendiri. 

SIAPA PELAKU YANG SEBENARNYA?

Di sisi lain, kita tidak boleh melupakan hal berikut: Melihat kesalahan ataupun perilaku tidak menyenangkan yang dilakukan orang lain sebagai dosa-dosa yang dilemparkan ke wajah kita sendiri adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Orang yang demikian tidak akan repot dan sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Oleh karena dia mengetahui penyebab asli dari suatu permasalahan, maka dia pun dapat dengan mudah menemukan solusinya. Jika kita melakukan kesalahan, akan ada reaksi negatif yang muncul dari orang lain. Akan tetapi, apabila kita selalu menyalahkan orang lain daripada mengevaluasi diri sendiri, maka kita tidak akan pernah menemukan inti dari permasalahan itu.

Oleh sebab itu, perlakuan apapun yang kita terima dari orang di sekitar kita, hendaknya kita menerimanya dengan lapang dada dan melakukan introspeksi diri: ”Kira-kira, apa yang telah saya lakukan sehingga saya mengalami hal seperti ini.” Setelah itu hendaknya kita bertawajuh lagi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, beristigfar, dan bermuhasabah. Barangkali Anda telah melemparkan batu ke tempat yang tidak semestinya, atau mungkin Anda telah melepaskan busur panah ke tempat yang bukan merupakan sasaran semestinya, dan akhirnya kini ia berbalik kepada Anda. Atau mungkin Anda pernah melontarkan kata-kata tidak pada tempatnya, sehingga Anda pun menerima balasan dari pihak lain. Barangkali Anda pernah bersuuzan kepada seseorang, atau mungkin Anda pernah mencela seseorang disebabkan oleh aib yang pernah dilakukannya; dan Allah pun membuat Anda merasakan aib yang pernah Anda cela itu. Bahkan yang dekat dari hal itu, yaitu ketidakmampuan menjaga kesucian pemikiran Anda, ketidakmampuan merawat tujuan utama Anda, dan barangkali Anda telah masuk ke dalam sebagian pikiran-pikiran yang rusak. Pada akhirnya hal-hal tersebut dapat menyebabkan datangnya sebagian peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan hati kepada diri Anda. Jadi musibah-musibah yang menimpa seseorang mulai dari tertusuknya kaki oleh duri, merupakan balasan dari sebagian kesalahan yang pernah ia lakukan. Maka dengan demikian, sebagian kesulitan yang berasal dari kawan-kawannya pun juga dapat dipahami berasal dari kesalahan serupa yang pernah diperbuatnya.

Al Quran ketika membahas hal itu mengatakan: وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy Syuara:30).” Ayat itu menyampaikan bahwa hal tersebut merupakan aturan ilahi.

PENYALAHGUNAAN KEPERCAYAAN

Sisi lain dari permasalahan ini di antaranya sebagai berikut: Beberapa orang sebelumnya mungkin pernah terlibat dalam tugas-tugas di dalam manajemen hizmet, di mana mereka bisa saja mengemban tugas tertentu dalam manajerial hizmet. Apabila mereka menggunakan kepercayaan ini untuk menyalahgunakan kawan-kawannya, kemudian mereka tidak memperhatikan keadaan kawan-kawannya, maka di waktu itu ia telah menyalahgunakan jabatannya. Kedudukan adalah suatu unsur yang sangat penting.  Kepercayaan ini, apresiasi yang ditunjukkan orang lain kepada dirinya harus digunakan untuk mengarahkan orang-orang tersebut agar mencintai hizmet.

Kondisi tersebut akan memudahkannya untuk mengelola dan mengarahkan orang-orang dalam beramal. Apabila orang-orang tidak nyaman dan memalingkan wajahnya dari Anda, maka Anda akan membutuhkan dua gerakan untuk bisa mendorong mereka agar berkenan beramal dan bergerak bersama.  Pertama-tama, Anda perlu membuat orang-orang itu untuk menyukai Anda. Kemudian Anda harus mengarahkan mereka ke tujuan yang diharapkan.  Apabila semua orang yang dikelola mampu bertindak seperti bunga matahari yang senantiasa mengarahkan dirinya sesuai arah matahari, yaitu mereka senantiasa mendengar dan mengikuti saran-saran dari Anda, maka Anda akan lebih mudah mengarahkan mereka untuk beramal. Oleh sebab itu, para pimpinan harus memperhatikan bagaimana meraih kepercayaan, menjaga kepercayaan, dan menggunakannya untuk kepentingan hizmet.

Jalan untuk meraihnya adalah bergaul dengan sesama manusia lewat berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an, menjunjung tinggi sopan santun, dan berlaku lemah lembut kepada sesama. Apabila Anda berhasil memiliki akhlak tersebut, maka Anda dapat menarik perhatian orang lain agar bisa mengikuti saran-saran dari Anda. Akan tetapi, apabila Anda berlaku keras dan kasar, maka akan banyak hati yang tersinggung dan kemudian memalingkan wajahnya dari Anda. Pada akhirnya, karena pendekatan kasar itu maka akan ada orang-orang yang meninggalkan Anda, yang mana berarti Anda akan kehilangan tangan, kaki, mata, dan telinga Anda. Sebagaimana sabda Rasulullah: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى yang artinya: Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih sayang dan perasaan mereka seperti satu jasad, jika salah satu anggota mengaduh kesakitan maka seluruh jasad akan merespon dengan tak bisa tidur dan demam (H.R Muslim).

Kerasnya sikap Anda dalam berinteraksi dengan sesama sama halnya dengan memotong organ tubuh Anda sendiri. Itu artinya Anda telah membatasi cakupan hizmet yang mana hal itu akan memberikan gangguan serius dalam kinerja hizmet Anda.

MENUTUPI KEKURANGAN DAN DOSA

Oleh karena salah satu asmaul husna adalah As-Sattar (Yang Menutupi Khilaf dan Dosa), maka kita pun sudah seharusnya berakhlak dengan akhlaknya Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kita sebisa mungkin tidak membahas kekhilafan kawan kita dihadapannya, menceritakan kekurangan kawan kita kepada orang. Sebaliknya, kita perlu menutupi kekurangan-kekurangannya. Jika tidak, mereka dapat mengalami tekanan jiwa dan kepercayaan dirinya juga akan turun yang mana itu berarti Anda telah berbuat dosa karenanya. Itu karena melalui pengungkapan kesalahan orang lain yang mana hanya diketahui oleh dirinya dan Allah subhanahu wa ta’ala semata, maka di satu sisi Anda dapat membuatnya malu karena kekurangannya itu, dan di sisi lainnya Anda menyebabkan orang lain bersuuzan terkait kawan Anda tersebut. Kawan yang demikian bisa terus terjebak dalam kesalahan dan dosanya. Dari sisi ini, meskipun kekhilafan dan dosa merupakan suatu keadaan yang buruk, menjatuhkan seseorang dalam keputusasaan terhadap kekhilafan dan dosa-dosanya adalah sesuatu yang lebih buruk lagi.

Dari semua yang kita terangkan tadi, jangan sampai dipahami bahwa kita tidak akan berbuat apa-apa untuk memperbaiki kesalahan dan kekhilafan kawan-kawan kita. Tentu saja kita harus menunjukkan jalan yang benar kepada manusia dan kita juga harus selalu berusaha mendorong dipraktikkannya kebajikan. Akan tetapi, jika ia tidak dikerjakan sesuai usul dan uslubnya, maka kita tidak boleh lupa jika hasil yang diharapkan tidak akan bisa dicapai. Dari sisi ini, kita harus mempertimbangkan baik-baik apa yang akan kita sampaikan dan kita harus menghargai perasaan lawan bicara kita. Kita harus memastikan sikap terbaik yang akan kita ambil untuk menangani segala macam kekhilafan yang terjadi dan kita juga harus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan apa saja yang akan muncul sebagai reaksi darinya.

Sekiranya ia kita akan menampik pesan-pesan yang akan kita sampaikan, bisa juga meminta bantuan orang lain yang dirasa lebih layak untuk menyampaikannya sehingga pesan yang akan diberikan dapat diterima dan dihargai nilainya. Demikianlah, terkadang beberapa orang dapat memberikan reaksi negatif bahkan terhadap kata-kata paling lembut dan paling logis sekalipun dari pesan-pesan yang kita sampaikan. Apalagi jika sebelumnya pernah terjadi kesalahpahaman dan ketegangan, maka pesan yang kita sampaikan akan semakin sulit untuk dapat diterima dengan baik di sisinya. Akan tetapi, terdapat sosok-sosok yang dia cintai dan hormati, di mana peringatan dan ancaman darinya sekalipun akan dipandang sebagai pujian. Biarlah orang-orang seperti ini yang mengambil tindakan dan menjelaskan pesan-pesan apa saja yang perlu untuk disampaikan. Bahkan, Ustaz dalam Risalah Ikhlas menasihati kita untuk melakukannya. Beliau juga mengungkapkan bahwasanya beliau menyukai penyampaian pesan melalui perantaraan orang lain yang dirasa lebih layak. Yang terpenting adalah bagaimana caranya supaya orang tersebut dapat mengambil pelajaran dan memperbaiki kesalahannya. Siapa yang menyampaikan nasihat tersebut bukanlah hal yang utama.

MEMPERHATIKAN POTENSI

Al-Qur’an memerintahkan kaum mukminin untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (lihat QS Al-Baqarah 2:148; QS Al-Maidah 5:48). Akan tetapi, tak boleh dilupakan bahwa setiap diri kita akan berlomba sesuai bakat dan kemampuannya masing-masing. Untuk itu, mengharapkan setiap orang menunjukkan performa yang sama adalah sesuatu yang kurang tepat.

Hizmet pun merupakan sebuah perlombaan. Akan tetapi, pada perlombaan ini terdapat beragam trek. Masing-masing dapat memilih trek yang paling cocok dengan kemampuan betis dan panjangnya napas mereka. Untuk itu, masing-masing memiliki kecepatan tempuh yang berbeda-beda. Apabila pihak manajemen dalam mempekerjakan orang-orang tidak memperhatikan hakikat ini kemudian memukul rata semua orang dengan beban kerja yang sama serta berharap semuanya memberikan hasil optimal, berarti mereka telah keliru dalam mengambil keputusan. Karena dalam keadaan tersebut mereka telah meletakkan sebuah beban yang tak akan mampu dipanggul oleh sebagian orang.

Padahal muamalah yang demikian tidaklah sesuai dengan akhlak ilahi.  Karena dalam aturan Sang Pencipta tidak ada yang namanya taklifi mala yutaq تکلیف مالایطاق (memberi beban di luar kemampuan manusia). Dalam kerangka yang sama, Rasulullah tidak memberikan tugas yang hanya cocok untuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib kepada Sayyidina Abu Dzar Al Ghifari. Tugas yang diamanatkan kepada Khalid bin Walid tidak ditugaskan kepada Abu Hurairah. Padahal mereka semua adalah sosok-sosok yang sangat agung. Akan tetapi, masing-masing memiliki spesifikasi keahlian tersendiri. Apabila Anda dalam menugasi seseorang tidak mempertimbangkan kapasitas dan kemampuannya kemudian memberikan tugas yang tak akan mampu ditunaikan kepadanya, sama saja Anda mendorongnya ke lubang kegagalan di mana hal tersebut dapat membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Kegagalan orang yang berada di bawah supervisi Anda juga dianggap sebagai kegagalan Anda.

Dalam memberi tugas, para pemimpin harus mempertimbangkan posisi dan situasi dari setiap orang yang berada di bawah supervisinya. Mereka tidak boleh memberikan beban yang tak mampu dipanggul oleh anggota timnya. Adalah sebuah kesalahan apabila kita berpikir bahwa setiap orang dapat menangani tugas apa pun apalagi melihat dirinya sendiri mampu melakukan apa saja. Sebagaimana membebani semua orang dengan beban yang sama bukanlah hak dari seorang pimpinan, demikian juga menanggung beban di luar kapasitasnya bukanlah hak dari siapa pun. Mereka yang berada dalam posisi tersebut harus bisa memiliki kesempatan untuk berkata: “Saya tidak akan mampu melaksanakannya.”  Daripada meninggalkan beban berat tersebut di tengah perjalanan, akan lebih baik apabila menyadari kesulitannya sedari awal dan meminta tugas lain yang lebih cocok dengan kapasitasnya.

 BERGERAK SESUAI POSISI

Memberikan sesuatu sesuai hak dan bertindak setakar dengan kebutuhannya merupakan salah satu topik yang sering dibahas. Karena masih berhubungan dengan bahasan kita, maka saya tidak memandangnya berlebihan untuk mengulasnya kembali. Sebagaimana para senior tidak boleh menyalahgunakan senioritas dan wewenangnya, demikian pula yang muda, mereka tidak boleh alpa dalam menghormati dan menghargai orang lain.

Lebih spesifik lagi, tanda-tanda keagungan kepribadian adalah tawaduk dan kerendahan hati. Seseorang yang menggunakan pintu putar untuk  masuk terlebih dahulu kemudian berjalan ke barisan depan dengan tujuan supaya orang lain mendengarkan kata-katanya adalah pertanda bangga diri dan sombong.
Sementara itu, kesombongan adalah tanda kekerdilan diri.  Orang yang postur tubuhnya pendek akan berusaha tampil lebih jangkung supaya bisa terlihat lebih tinggi. Di satu sisi, tantangan tersebut berasal dari hal-hal rumit semacam ini. Selain itu, adalah fakta apabila seseorang mencoba untuk mengekspresikan dirinya dan mendapatkan kenaikan level melalui usaha dominasi tertentu menunjukkan bahwa dia tidak memiliki karakter yang solid dan kepribadian yang mantap.
Bahkan seseorang yang memiliki pemikiran: ”orang-orang ini harus menyimak kata-kataku, mereka harus mematuhi semua perintahku” meskipun tidak nampak secara langsung dari sikap maupun perilakunya, tetap saja hal tersebut tak bisa dibenarkan. Menyandingkan hal-hal tersebut dengan kepribadian muslim adalah suatu hal yang tidak mungkin.

Pada prinsipnya, tidak ada satu orang pun anak manusia yang berhak meminta supaya dirinya dihormati dan dihargai. Apabila ia mendapat kehormatan dan penghormatan sekalipun hendaknya ia menerimanya dengan rasa enggan. Karena orang-orang yang mengharapkan hal-hal demikian akan menjatuhkan nilai agung hizmet yang sedang dikerjakannya. Pada waktu yang sama, hal itu seperti ia menukar ganjaran yang akan diberi Allah azza wa jalla kepada dirinya dengan sesuatu tak bernilai yang berasal dari manusia.  Para Nabi yang agung datang dengan pesan yang dapat mengantarkan manusia ke surga. Meskipun  bekerja sepanjang usia, mereka tak mengharap imbalan apa pun baik materi maupun maknawi dari umatnya. Semua nabi memiliki semboyan yang sama: فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللّٰهِ ”Aku tidak meminta upah sedikit pun dari kalian. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah semata (QS Yunus 10:72).

Di sisi lain, tugas mereka yang masih muda adalah mengapresiasi rekan-rekan yang telah memberikan kesempatan berhizmet kepada mereka; memberi mereka yang melakukan bimbingan di jalan ini komplimen; serta memberi penghargaan kepada mereka yang telah berbuat banyak kebaikan melalui hizmet-hizmet yang dilakukannya. Apabila hal-hal tersebut dapat dilakukan, maka akan terbentuk harmoni keseimbangan dalam setiap level masyarakat. Tugas-tugas yang harus ditunaikan pun dapat dilaksanakan dengan tenang.

Sebagai penutup, saya ingin membahas satu hal lagi: Kita semua memiliki kekurangan dalam menunaikan butir-butir elemen tadi. Barangkali kita tidak mampu merepresentasikan dengan utuh prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari.  Karena kealpaan tersebut, bisa saja kita menerima beragam kritik. Demikian juga sebaliknya, bisa saja kita yang mempertanyakannya. Pada titik ini, kita tidak boleh menampilkan situasi-situasi pesimistis yang dapat mengguncang semangat kawan-kawan kita. Deformasi yang terjadi tidak boleh disampaikan melalui cara yang dapat meruntuhkan harapan. Tak bisa dilupakan, dakwah-dakwah penting dan pengabdian-pengabdian krusial lainnya dalam titik tertentu terlihat mengalami deformasi di setiap waktu. Pekerjaan utama yang harus dikerjakan di sini adalah kembali membangkitkan semangat ketika terdapat kondisi yang mendorong kita pada keputusasaan serta bergotong-royong memperbaiki kerusakan dan kerapuhan yang terjadi di sana-sini.