Fethullah Gulen, Ulama Turki Peraih Gandhi King Ikeda Peace Award 2015

Atlanta – Ulama asal Turki, Fethullah Gulen, telah lama memprakarsasi gerakan Hizmet, pelayanan pada umat manusia tanpa berharap

Atlanta – Ulama asal Turki, Fethullah Gulen, telah lama memprakarsasi gerakan Hizmet, pelayanan pada umat manusia tanpa berharap balas demi kebaikan. Gerakan ini membuat Gulen akhirnya diganjar Gandhi King Ikeda Peace Award 2015.

Sang ulama ini telah jauh hari mempromosikan perdamaian dan kesamaan HAM. Lahir di Provinsi Erzurum tahun 1941, putra pasangan Ramiz Gulen dan Refia Gulen sudah sangat haus akan pengetahuan sejak muda, baik ilmu pengetahuan umum, sains hingga agama.

Dia juga melahap karya sastra klasik Barat seperti Les Miserables, Of Mice and Man dan berbagai karya sastra klasik Barat yang meningkatkan pemahamannya dengan dunia Barat. Dia juga menikmati musik klasik Turki, mengagumi pelukis Pablo Picasso dan Da Vinci.

Sebagai seorang yang haus ilmu, dia meraih lisensi alim ulama pada usia 21 dan menjadi dosen di Provinsi Edirne dan diizinkan berkhotbah di Erzurum karena prestasinya yang luar biasa sebagai mahasiswa. Di akhir 1950-an, Gulen berkenalan dengan pemikiran cendekiawan muslim Turki lain, Saud Nursi. Nursi mendiagnosa bahwa kunci masalah di dunia Islam dan kemanusiaan adalah kemiskinan, kebodohan dan perpecahan. Nursi berpendapat, bahwa masalah ini harus ditangani lebih dulu bila ingin nilai-nilai kemanusiaan dibangkitkan. Pemikiran Nursi ini akhirnya mempengaruhi pemikiran Gulen dalam isu-isu kontemporer.

Akhirnya, pemikiran Gulen yang menyentuh isu-isu sosial, ekonomi, pendidikan, ilmiah hingga spiritual mendapatkan perhatian luar biasa di antara para ulama lainnya. Tak cuma berceramah, memberikan nasihat, Gulen mendorong pentingnya aktivitas sosial dan mendorong warga negara untuk bergerak menangani masalah-masalah itu dengan kegiatan sukarelawan dibanding mengharapkan pemerintah menanggulangi semuanya.

Saat ditunjuk menjadi ulama senior regional wilayah Izmir, Turki, gagasan Gulen tentang keadilan sosial, perbaikan ekonomi, kebangkitan pendidikan dan penguasaan teknologi mulai banyak didukung. Dia lantas menjadi penggerak dalam berbagai gerakan sosial di Izmir.

Aksi pertamanya adalah memberantas buta huruf dan meningkatkan kualitas pendidikan, memobilisasi kalangan bisnis untuk mendanai institusi pendidikan yang disebut ‘Sekolah Gulen’, seperti asrama, pusat persiapan kuliah, hingga kampus yang mendorong penguasaan sains dan nilai kemanusiaan.

Di pertengahan 1980, Gulen mencanangkan visi ‘Dunia yang lebih baik melalui pendidikan yang lebih baik’, dia mengajukan proposal pada para pendukungnya: membuka sekolah di negara-negara Asia Tengah yang akan dibebaskan dari Uni Soviet. Di tahun berikutnya, dia mendirikan institusi pendanaan pendidikan yang akan mendanai pendidikan bagi siswa yang membutuhkan di seluruh dunia.

Pria yang akrab disapa Hodja Effendi ini mendorong para pendukung pemikirannya untuk mendirikan organisasi yang akan beroperasi di seluruh dunia, membantu siapa saja yang membutuhkan terlepas dari apapun latar belakangnya, di tahun 1990-an. Di tahun itu pula Gulen mendorong dialog antar golongan, agama, pandangan dan tradisi untuk mencapai perdamaian dunia yang lebih lestari. Gulen percaya, tanpa dialog dan komunikasi antar golongan yang tulus, perdamaian dunia tak akan tercapai.

Akhirnya, pergerakan sosial yang diinisiasi Gulen ini, yang populer disebut “The Gulen Movement” atau “The Fethullah Gullen Community” berhasil mengumpulkan dana, mendanai komunitas pergerakan sosialnya, tanpa tergantung bantuan pemerintah dengan segala bentuknya. Pendekatan ini membantu pergerakan Gulen jauh dari korupsi dan politik.

Namun tak ayal, Gulen yang sebelumnya dekat dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ini menjadi sasaran ‘tembak politik’ pula. Erdogan menuduh Gulen dengan menyusupkan para pengikutnya di lembaga-lembaga negara seperti pengadilan dan kepolisian. Erdogan melakukan penyerangan pada media yang dekat dengan Gulen dan menudingnya menanamkan pengaruh untuk menggulingkan dirinya dari pucuk pemerintah Turki.

Pada Desember 2014 lalu, pengadilan di Turki memerintahkan penahanan Gulen yang kini tinggal di Pennsylvania, AS ini. Namun pada 9 April, Gulen dianugerahi Gandhi King Ikeda Peace Award 2015 di Martin Luther King Jr. International Chapel, Morehouse College Atlanta, AS.

“Saya hanya bisa menerima penghargaan ini atas nama mereka yang berpartisipasi gerakan Hizmet yang mendedikasikan diri mereka melayani manusia tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbal balik,” demikian kata Gulen.

Penghargaan Gandhi King Ikeda Peace ini memang memberikan penghargaan untuk mempromosikan perubahan sosial bagi mereka yang bisa mendemonstrasikan persatuan di antara perbedaan. Nama penghargaan ini terdiri dari 3 tokoh dengan agama yang berbeda, yakni Mahatma Gandhi yang Hindu dari India, Martin Luther King Junior yang beragama Kristen asal AS, dan Daisaku Ikeda yang beragama Buddha dari Jepang.

Source:

https://news.detik.com/tokoh/d-2894067/fethullah-gulen-ulama-turki-peraih-gandhi-king-ikeda-peace-award-2015