Fethullah Gulen: Pandangan Cinta dan Toleransi

Akhir-akhir ini gairah keberagamaan telah kembali semarak, setalah berpuluh tahun hilang ditekan berbagai rezim penguasa. Berbagai atribut keagamaan

Akhir-akhir ini gairah keberagamaan telah kembali semarak, setalah berpuluh tahun hilang ditekan berbagai rezim penguasa. Berbagai atribut keagamaan semakin bangga dipertontonkan. Simbol-simbol spiritual makin jamak dilihat.

Harusnya ini merupakan kabar baik, namun sayangnya tidak. Kegairahan itu telah salah jalan. Semakin semaraknya gairah keberagamaan itu sayangnya dibarengi pula dengan semakin menguatnya isu-isu identitas di ruang publik.

Islam, agama yang harusnya mengajarkan akhlak, cinta dan kasih, justru dipelintir, digunakan sedemikian rupa untuk menjadi alat-alat meraih kekuasaan semata. Hal ini meningkatkan isu-isu intoleransi secara drastis. Di ruang publik, umat Islam seolah tampil sangat gahar, penuh amuk, dan marah.

Seolah ingin menang, paling benar, dan memaksakan kehendaknya sendiri di tengah keberagaman masyarakat yang ada di Indonesia. Dan aroma kebencian itu terus terasa hingga hari ini.

Kondisi itu justru mengingatkan saya pada seorang intelektual muslim besar di negeri Turki. Dia dengan nilai-nilai cinta dan toleransi, serta gerakan sosialnya yang menggeliat di ratusan negara di dunia, sudah selayaknya menjadi teladan bagi umat Islam di Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan beliau adalah Fethullah Gulen. Sang pelopor Gulen Movement di seuruh penjuru dunia.

Sosok Fethullah Gulen

Gulen kecil lahir di Turki, di daerah Korocuk, pada 11 November 1938. Gulen dilahirkan oleh keluarga harmonis yang sangat agamis dengan semangat keislaman yang membumi. Gulen kecil yang sejak dini diajari oleh ibunya mengaji dan rutin membaca Al-Qur’an, hingga pada usia empat tahun, ia sudah sanggup mengkhatamkan Al-Qur’an dalam kurun waktu satu bulan.

Gulen mewarisi kecintaannya kepada Nabi saw. dari ayahnya yang selalu membaca kisah-kisah Nabi saw. Ramiz Gulen, ayah dari Fethullah Gulen menanamkan sejak dini kecintaan kepada Nabi saw., sehingga membentuk kepribadian Gulen yang mencintai Nabi saw.

Setelah kepribadiannya ditempa di dalam lingkungan keluarga yang sangat islami, ia pada akhirnya melanjutkan pendidikannya secara resmi di kota Erzurum, Turki. Sementara itu, pendidikan spiritual yang dipelajari oleh Gulen diawali dari ayahnya sendiri dan kemudian berguru kepada M. Lutfi Efendi.

Dia juga banyak menimba ilmu agama dari seorang ulama bernama Osman Bektasi. Perpaduan antara pendidikan formal dan pendidikan spiritualnya menjadikan dia tertarik untuk memadukan antara sufisme dengan ilmu-ilmu saintifik. Bahkan, diketahui Gulen juga secara autodidak mempelajari ilmu-ilmu sains, seperti biologi, fisika, kimia, dan sebagainya.

Gulen adalah salah satu orang yang mengidolakan Badiuzzaman Said Nursi. Dia sangat terpukau dengan pemikiran milik Said Nursi, dan diketahui ia juga berguru langsung dengan murid Said Nursi. Karena kekagumannya pada sosok Said Nursi, pemikiran Said Nursi inilah yang sangat dominan memengaruhi kerangka berpikir sufistik seorang Fethullah Gulen.

Sekilas Tentang Gulen Movement

Fethullah Gulen selain dikenal karena pemikirannya, juga dikenal karena gerakannya yang cukup masif tersebar di penjuru dunia. Gerakan Fethullah Gulen, atau lebih sering dikenal dengan Gulen Movement (GM) adalah gerakan yang dilandasi oleh rasa cinta, keteguhan iman, dan teladan sunah Nabi saw.

Orientasi GM bukan pada ranah politik sebagaimana kebanyakan gerakan Islam transnasional, melainkan berorientasi pada gerakan hizmet (pelayanan sosial). Hizmet miliknya lebih sering bergerak di bidang pendidikan dan filantropi.

Karakteristik pendidikan yang terdapat dalam sekolah-sekolah Gulen adalah dengan konsep sufistik yang mengakomodir modernisasi. Gulen mengajarkan transmisi nilai-nilai spiritual, moral berperilaku, toleransi, rasa hormat keterbukaan, dan sejenisnya. Diharapkan melalui pendidikan itu, mampu melahirkan transformasi spiritual yang nantinya secara tidak langsung, akan berdampak pada terbentuknya transformasi sosial yang lebih luas.

Selain dengan cara formal seperti pendidikan, Gulen juga mengajarkan cara hidup berdampingan yang harmonis melalui dialog. Dialog itu bertujuan untuk menumbuhkan toleransi terhadap manusia satu sama lain, karena Gulen sendiri berpendapat bahwa Islam adalah agama yang indah dan harmonis.

Intoleransi, yang banyak diekspresikan oleh umat Islam saat ini, diakibatkan oleh ketidakpahaman seorang muslim dalam memahami Islam secara penuh. Pemaknaan ayat-ayat jihad yang kurang tepat sehingga ia merasakan bahwa Islam seperti kekerasan. Padahal sebaliknya, Islam justru banyak mengajarkan tentang cinta dan akhlak.

Pandangannya tentang Islam, modernitas, cinta, dan toleransi disambut baik oleh masyarakat dunia secara luas. Ini terbukti bahwa sekolah dengan model yang ditawarkan oleh Gulen berdiri di 130 Negara yang mungkin masih terus bertambah. Dari beberapa negara tersebut, terdapat 1000 afiliasi lembaga sekolah.

Konsep Cinta dan Toleransi Fethullah Gulen

Cinta adalah dasar dari sikap toleransi. Dengan cinta, seorang akan peduli terhadap sesama, melakukan hal-hal dengan tanpa pamrih, dan melakukan perbaikan pribadi untuk mengubah kehidupan di bumi.

Menurut Gulen, kekerasan dan kerusakan di dunia ini karena tidak adanya cinta dalam diri manusia tersebut. Jika cinta tumbuh dalam hati seorang manusia, maka sudah pasti sikap toleransi akan hidup dalam dirinya.

Gulen mengajarkan cinta kepada muridnya karena terinspirasi dari Nabi Muhammad saw. dan Jalaluddin Rumi. Nabi Muhammad adalah manusia yang penuh cinta dan kasih sayang (pride of humanity).

Menurut Rumi, cinta adalah elemen penting dalam diri seorang. Cinta juga merupakan esensi dari seluruh ekspresi manusia. Cinta dan kasih Nabi itulah yang menggoyangkan hati seorang Yahudi yang senantiasa meludahinya, yang menahan agar Jibril tak menimpakan gunung kepada penduduk Thaif yang sangat keji kepadanya, dan nilai-nilai cinta itu pula yang membuat Fathul Makkah tidak menjadi ajang pertumpahan darah dan ajang balas dendam. Padahal, masih segar di ingatan bagaimana siksaan Kafir Quraish kepada umat Islam saat masih berada di Makkah.

Cinta dan toleransi diintegrasikan Gulen ke dalam kurikulum pendidikannya. Untuk menyokong kurikulum dan konsep pendidikannya, Gulen membentuk jaringan pendidikan yang memuat sekolah, keluarga, masyarakat, organisasi kultural, organisasi agama, dan tempat kerja yang kondusif.

Sistem pendidikan yang dibentuk Gulen tersebut dilandasi dengan keterbukaan dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga aktualisasi cinta dan toleransi semakin terlaksana. .

See – https://ibtimes.id/fethullah-gulen-pandangan-cinta-dan-toleransi/