ETIKA KITA SAAT MENGHADAPI SIKAP KEBENCIAN

Tanya: Bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika menghadapi perilaku dan tindakan yang memusuhi kita? Jawab: Sikap seorang mukmin sangatlah penting.

Tanya: Bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika menghadapi perilaku dan tindakan yang memusuhi kita?

Jawab: Sikap seorang mukmin sangatlah penting. Terlebih lagi, jika ia adalah insan yang mengambil pelajaran dari pengajaran mulia yang diberikan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Tidak mungkin bagi seorang mukmin untuk keluar dari adab, kesantunan, dan kebersihan hati. Sebab setiap perilaku yang ia tunjukkan terhadap suatu peristiwa maupun individu secara otomatis harus selalu mengacu pada khazanah Islam. Jika demikian, seorang mukmin mesti menunjukkan sikap yang dibentuk sesuai dengan adab islami serta tidak mengubahnya bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang paling tidak beriman dan juga kejadian yang paling membahayakan sekalipun. Jika kita memperhatikan kehidupan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam, kita melihat bahwa Rasul tidak pernah mengubah sikapnya bahkan terhadap Abu Jahal sekalipun.

Pada pertimbangan ini, jika pun kita harus marah terhadap sesuatu, sikap yang kita tunjukkan haruslah tetap berada dalam koridor uslub (cara) Islami. Sejatinya, Al-Qur’an pada beberapa ayat-ayatnya menggunakan gaya bahasa yang keras terhadap orang-orang kafir. Namun, gaya bahasa yang keras tersebut tidak ditujukan bagi individu, tetapi kepada ide dan pemikiran yang menyimpang. Ya, sebenarnya Al-Qur’an tidak mengecam siapapun. Alih-alih menyinggung orang-orang kafir dan sesat, sesungguhnya yang dikecam olehnya adalah pemikiran dan pemahaman sesat yang mereka wakili dan terus ada hingga hari kiamat nanti. Kita sebagai orang-orang yang seharusnya senantiasa mengambil pelajaran dari Al-Qur’an tidaklah mungkin melakukan hal-hal yang berbeda dari pesan-pesannya.

Ya, sebagaimana kita bisa mengaitkan hakikat ini pada seorang individu, terkadang kita bisa juga mengaitkannya pada suatu bangsa. Sebagai contoh, saat kita mengatakan sesuatu tentang “Amerika, Inggris, atau Jerman”, kadang-kadang cara kita cenderung keras. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa jika suatu hari kelak kita berencana pergi ke sana untuk menjelaskan hakikat dan kebenaran ilahi pada orang-orang Amerika, Inggris, Jerman lalu menyampaikan pesan-pesan Ilahi agar mereka terselamatkan dari siksaan abadi, maka sejak saat ini pun kita harus mulai meninggalkan keketusan yang ada, serta harus mulai merumuskan uslub terbaik kita saat menghadapi mereka nanti. Seperti juga dalam semua hal, maka dalam hal ini kita pun harus menerapkan kriteria-kriteria dan takaran yang disarikan dari ruh Al-Qur’an dan Sunnah.

Jika Anda mau, mari kita mengambil sebuah contoh yang lebih spesifik dari Al-Qur’an. Ketika Allah subhānahu wa ta’āla berkata kepada Nabi Musa alaihi salam tentang Fir’aun, “Berkatalah kepadanya dengan lemah lembut, mungkin ia akan [mau] berfikir” (QS Taha 20: 44). Dalam firman-Nya tersebut, Allah subhānahu wa ta’āla menyampaikan kepada Nabi Musa alaihi salam bahwa meskipun Fir’aun telah menumpahkan darahmu dan kaummu selama bertahun-tahun, tetapi kamu harus tetap menggunakan kata-kata lembut dan bahasa yang kalem. Poin khusus yang menarik perhatian di sini adalah bahwa Al-Qur’an menghubungkan pemikiran dan rasa takut kepada Allah dengan “Qaul Layyin” (perkataan yang lemah lembut). Dengan kata lain, “Jika kamu bersikap penuh kekerasan, dia tidak akan mau berpikir dan tak pula akan tunduk.” Maka, terlepas dari siapapun lawan bicara kita, kelemahlembutan dan toleransi adalah syarat yang tak bisa dilewatkan dalam menjelaskan suatu pesan.

Berarti, seorang Muslim harus selalu bersikap lembut, berhati, berkalbu, berjiwa, dan berkata lembut hingga ia bisa menjadi insan irsyad (penyampai pesan dakwah) sejati. Sebaliknya, setiap keadaan dan sikap seseorang yang tidak ada kelembutannya, atau tak juga bisa melunakkan diri serta tak mampu menempatkan dirinya dalam wadah spiritualitas Rasulullah adalah hal yang dibuat-buat semata. Bahkan jika mereka tersenyum pun watak aslinya akan langsung tampak ketika orang di sekitarnya melakukan satu kesalahan kecil saja.. Ia bagaikan sinar kunang-kunang, memangnya bisa berapa lama sinarnya itu mengelabui seorang ahli astronomi?

Dalam kriteria inilah maka sangat mungkin kita memahami permasalahan turunnya kembali Nabi Isa ke bumi di akhir zaman kelak di mana nantinya beliau akan mengikuti salah satu umat Rasulullah Muhammad, yaitu dalam bentuk keadilan, kasih, dan sayang yang ada pada jiwa pengikut Nabi Muhammad. Kita harus menghayati karakter Muhammadi tersebut di atas rata-rata sampai pada taraf yang menurut sebagian orang dianggap berlebihan, yaitu hingga menjadi pribadi yang “tak membalas ketika dipukul, bungkam saat dihujat, dan tak patah hati saat disakiti kalbunya” .

Dalam hal ini, Ustaz Badiuzzaman Said Nursi yang merupakan sosok penuh derita adalah sebuah contoh yang tepat. Beliau selalu berusaha menemukan cara untuk menjelaskan hakikat iman dan tak pernah merasa sakit hati bahkan kepada orang yang telah memberikan siksaan paling kejam dan paling berat padanya sekalipun. Bukankah Ashabul Uhdûd juga seperti itu? Mereka menggali paritnya sendiri, sembari terus berusaha dengan keras menuangkan ilham-ilham dari jiwa mereka pada orang-orang yang melemparkan mereka ke parit-parit tersebut.

Ya, kita tidak mungkin bisa menyampaikan apapun kepada orang lain atau membuatnya menerima sesuatu dengan cara berteriak, apalagi menggunakan kekerasan dan kemarahan. Mungkin kekerasan adalah metode dan cara yang digunakan dalam periode waktu tertentu, tetapi hal itu telah sirna seiring berjalannya waktu. Sekarang, hukum yang berlaku adalah “Mengalahkan kalangan berperadaban harus dengan jalan persuasi”. Para pahlawan cinta pada zaman ini harus dapat menangkap bingkai tingkatan yang sedang kita coba untuk guratkan ini dan harus sering membiasakannya.

Ya, seperti yang telah kita jelaskan di atas pada akhir zaman nanti Nabi Isa alaihi salam pasti akan turun untuk menjalankan misi Beliau yang sangat penting walaupun hanya di sudut terpencil akhirat sekalipun. Beliau akan turun, tapi hanya pada ketulusan maknawi yang ada pada kedalaman makna dan jiwa dari syakhsiyah maknawiyah. Ya, Ia akan turun untuk tinggal pada makna dan jiwa yang seperti ini. Jika jiwa itu tak ada, maka saya pikir jasadnya turun sekalipun tak akan ada maknanya jua. Walhasil, harus kita ketahui bahwa tujuan kebangkitannya di akhir zaman nanti hanya akan terwujud melalui hela nafas kebangkitan dari para ksatria cinta yang menampilkan sikap tenang, perilaku santun, kalbu yang halus, serta memiliki tutur kata yang lembut.