Hâl adalah: hidup seseorang di kedalaman jati dirinya dengan berbagai anugerah dari Alam Gaib, dan kesadarannya atas berbagai perbedaan antara “malam” dan “siang”, “pagi” dan “petang”, yang terjadi di dalam cakrawala hatinya. Orang-orang yang memahami “hâl” sebagai sesuatu yang meliputi hati manusia, baik berupa kesenangan, kesedihan, kelapangan, atau kesempitan, yang terjadi begitu saja tanpa ada upaya atau pun usaha, mereka juga menyatakan bahwa hâl bersifat berkesinambungan bersama keberadaan “maqam“, dan hâl akan hilang jika muncul “ke-diri-an” (al-nafsâniyyah).

Berdasarkan penjelasan ini, maka dapat dikatakan bahwa hâl adalah sebuah anugerah Ilahiah yang merasuk ke dalam relung hati. Sementara “maqam” adalah: sampainya manusia pada fitrahnya yang kedua dengan menyerap anugerah Ilahiah tersebut dengan kehendak dan tekad seseorang sampai ia menguasai jati dirinya.


Ridha adalah: tidak terguncangnya hati seseorang ketika menghadapi musibah dan mampu menghadapi manifestasi takdir dengan hati yang tenang. Dengan kalimat lain, ridha adalah: tetapnya organ hati dalam ketenangan dan ketenteraman ketika mengalami sesuatu yang akan membuat orang lain kesakitan. Berhubungan dengan ini, terdapat sebuah penjelasan lain, yaitu bahwa ridha adalah: ketenangan hati dan ketenteraman jiwa terhadap ketetapan dan takdir Allah s.w.t., serta kemampuan menyikapinya dengan tabah, termasuk terhadap derita, nestapa, dan kesulitan yang muncul darinya yang dirasakan oleh jiwa kita.

Jalan menuju ridha pada awalnya bersifat intensional (berdasarkan niat dan keinginan individu yang bersangkutan). Tapi pada tahap selanjutnya ia merupakan hadiah Ilahiah yang berada di atas kehendak dan ikhtiar manusia, karena ia merupakan anugerah dari Allah al-Haqq s.w.t. bagi orang yang dicintai-Nya. Itulah sebabnya, di dalam al-Qur`an dan Sunnah Nabawiyah tidak ada perintah lain yang seperti perintah sabar. Bahkan sabar diingatkan Allah seperti layaknya sebuah wasiat.[1]