Tanya: Bagaimana kita bisa memahami universalitas Islam?[1]

Jawab: Islam adalah agama yang universal. Islam, menyampaikan pesan-pesannya tanpa membeda-bedakan kaum, suku, bangsa, zaman sekarang, ataupun zaman yang akan datang. Oleh karena itu, sasaran dari pesan-pesannya adalah seluruh umat manusia. Universalitas ini ditunjukkan dengan seruan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad datang. Ketika mereka berseru “Kaumku, kaumku”, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berseru “Wahai umat manusia..”. Hal ini juga didukung dengan ayat, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya: 21/107) dan hadis “Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya.” Hadis ini ibarat setetes air dari samudra yang luas.


Tanya: Di seluruh dunia, untuk melawan sistem yang sedang berjalan muncullah kaum reaksioner[1] yang mengatasnamakan Islam. Apa pendapat Anda dalam hal ini?[2]

Jawab: Sepanjang sejarah, saya tidak ingat ada sesuatu yang menunjukkan bahwa gerakan reaksioner memiliki manfaat atau mereka yang bergerak dengan pemikiran ini kemudian berhasil mencapai tujuannya. Saya tidak akan menyebutkan nama, tetapi di berbagai belahan dunia beragam gerakan reaksioner, baik yang islami ataupun yang non-islami, dalam beberapa waktu kemudian akan terhenti. Di negara kita gerakan demokratik pertama merupakan gerakan reaksioner. Akan tetapi, mereka tak berumur panjang dan telah hilang ditelan waktu. Kini:


Tanya: Bagaimana Anda mengevaluasi nilai-nilai akhlak dan spiritual yang seharusnya dijalani terkait gerakan kebangkitan di zaman modern saat ini? [1]

Jawab: Ada dua sisi, pertama tugas yang diamanahkan kepada kita; Kedua, tugas yang berada di luar kemampuan kita. Pertama, tugas yang diamanahkan kepada kita ini semata-mata dikerjakan untuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Tugas melaksanakan perintah Allah ini memaksa kita menahan rasa kantuk, merenggut kenyamanan, menghilangkan nafsu makan dan minum, serta membuat tubuh kita lelah. Jika seluruh tugas melaksanakan perintah Allah ini tidak dilakukan untuk mencari rida Allah dan untuk menyampaikan agama-Nya, maka semua kelelahan itu akan berakhir sia-sia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Quran ‘Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu,’ (QS al-Anfal:24). Benar, ini sebuah ihya (usaha menghidupkan/mengisi), yaitu berhubungan dengan semangat kebangkitan dan membangkitkan semangat orang lain. Kebangkitan yang dijelaskan dalam ayat al-Quran ini hanya bisa diwujudkan dengan wasilah agama dan menghidupkan agama dalam kehidupan sehari-hari.


Pertanyaan: Apa saja yang harus kita perhatikan terhadap sebuah dosa? Apakah langkah-langkah kita untuk bertaubat dari dosa-dosa?

Taubat adalah benteng perlindungan kita yang paling besar ketika kita berhadap-hadapan dengan dosa. Dalam hal ini, kita sangat perlu memperhatikan hal-hal berikut untuk kehidupan kalbu dan jiwa kita:

1. Reaksi di hadapan dosa

Hal ini berkaitan erat dengan keadaan ruhani manusia pada saat itu. Kadang hal seperti ini terjadi. Yaitu ketika Anda melakukan dosa, maka kepala Anda tertunduk, lalu Anda mulai berdoa dan memohon-mohon agar dosa Anda diampuni. Terkadang juga, tangisan dan rintihan yang Anda lakukan tidak juga menenangkan kalbu Anda. Teriakan yang Anda suarakan pun tidak dapat memadamkan api di dalam hati Anda. Tapi semoga saja rasa sedih yang selalu mengganggu batin Anda untuk sebuah taubat akan lebih makbul dan lebih valid di sisi Allah…

Ketika melewati pasaran dan pekan, jika tanpa disengaja mata Anda tergelincir dan membuat Anda berpikiran seperti ini: “Aduh! Apa yang telah kulakukan! Harusnya aku bertawajjuh kepada Allah Ta’ala di setiap saat sebanyak partikel tubuhku, aku malah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dan berbuat dosa. Sedangkan aku bisa saja menutup mata. Harusnya aku bisa memilih jalan yang lebih selamat dan aman meskipun jalannya jauh dst.” dan Anda segera menghamparkan sajadah serta bersujud sembari merintih memohon ampunan atau dengan kesedihan yang menyelimuti batin membuat dunia Anda semakin menghimpit, artinya pada saat itu Anda telah mencapai taubat yang hakiki. Ya. Taubat sebenarnya adalah sebuah penyesalan dan api yang membara di dalam hati.


Tanya: Berkenankah Anda menjelaskan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan duniawi serta ukhrawi kita?

Jawab: Keseimbangan adalah sesuatu yang sangat penting dalam setiap aspek kehidupan. Setiap manusia berkewajiban untuk berlaku seimbang, mulai dari kehidupan iman hingga ibadah, mulai dari makan hingga minum, hingga menjaga komunikasi dan silaturahmi dengan anggota keluarga terdekat hingga yang terjauh.  Nasihat Sahabat Salman al Farisi[1] berikut kepada Abu Darda’ menggambarkan betapa keseimbangan dan tamkin adalah sesuatu yang amat serius bagi setiap individu:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

Artinya: “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.[2]

Pada urutan paling awal, pemahaman akan penghambaan perlu dipahami dengan baik. Sebagaimana diketahui, tujuan asli dari mengingat Allah adalah untuk meraih rida Ilahi. Hal lain semisal memiliki karamah dan mampu melakukan hal-hal ajaib sekali-kali bukanlah tujuan asli. Para kekasih Allah pun memandang hal tersebut dengan pandangan risi dan tidak memedulikannya sedikit pun. Karamah tadi hanyalah bonus yang didapatkan dari ketulusan bekerja serta tanpa pamrih dalam berusaha. Ketika seorang hamba mendapatkannya, dia akan menerimanya dengan perasaan campur aduk antara gembira dan khawatir seraya berujar: ‘Ya Rabb! Ini semua adalah hadiah yang berasal dariMu!’. Namun, reaksi paling tepat dari seorang hamba pada keadaan yang demikian adalah lintasan ujaran yang senantiasa disempurnakan oleh loyalitas kepadaNya seperti: ‘Ya Rabbi! Apakah aku telah berlaku tidak setia kepadaMu sehingga Engkau memberiku manisan-manisan ini?’. Dengan lintasan ujaran seperti ini, ia sekali lagi mengecek kesadikannya kepada Tuhannya.


Pertanyaan: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Jadilah seorang Muslim” kepada seorang sahabat. Sahabat itu menjawab, “Saya tidak menginginkan hal itu.” Pesan apa yang diberikan kepada para Muslimin dari jawaban Rasulullah, “Meskipun tidak menginginkan, jadilah seorang Muslim!”[1]?

Jawab: Sebenarnya banyak manusia yang menjadi seorang Muslim bukan karena keinginan mereka sendiri. Tapi mereka semakin memperdalam kemuslimannya setelah mendengarkan khotbah-khotbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan memang seseorang tidak bisa secara langsung menjadi seorang Muslim seperti Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Bahkan, para sahabat seperti Umar Radhiyallahu Anhu, Utsman Radhiyallahu Anhu, Talha Radhiyallahu Anhu dan Zubair Radhiyallahu Anhu mengalami waktu-waktu dalam keraguan. Mereka tidak melihat hal ini sebagai sebuah keras kepala dan keras hati. Karena ketidaksesuaian dengan apa yang diprogramkan dalam kalbu dan akal, di masa tertentu mereka berjalan penuh dengan pikiran dan khayalan tapi dalam kalbu mereka selalu berdiri teguh sebagai Muslim.  Dan tiba satu hari dimana mereka tidak memiliki keraguan sekecil apapun.


Tanya: Terdapat perbedaan pandangan di antara kaum muslimin seputar doa Jausyan. Ketika beberapa kaum muslimin memuliakannya, sebagiannya lagi tidak memperhatikan, bahkan mungkin tidak tahu apa itu doa Jausyan. Oleh karena itu, berkenankah Anda memberi kami pencerahan seputar Jausyan?

Jawab: Terdapat banyak pendapat serta pandangan terkait doa Jausyan. Doa ini lebih banyak diriwayatkan dalam buku-buku rujukan kaum syiah sehingga menyebabkan kaum ahlussunnah bersikap dingin terhadapnya. Pandangan kita terhadap doa jausyan sedikit mengarah pada keistimewaannya.  Untuk itu, daripada menjelaskan pandangan pihak lain, disini kami ingin menyampaikan pendapat kami sendiri:

Jausyan adalah doa yang dibuat dengan ikhlas

Mau dilihat dari kata atau kalimatnya di bagian manapun, akan terlihat ia meneteskan doa yang memikul keikhlasan dan ketulusan di setiap tetesannya. Oleh karena itu, tidak peduli doa jausyan ini dinisbahkan kepada siapa, hal tersebut tidak akan mengurangi keistimewaan yang dimilikinya. Disini tentu saja kita tidak bermaksud untuk mengatakan: “Tidak ada perbedaan nilai antara kata yang dinisbahkan kepada Baginda Nabi dengan kata yang dinisbahkan kepada manusia lainnya.” Yang kami maksudkan adalah: karakteristik paling sederhana yang dimiliki Jausyan yaitu ia minimal adalah sebuah kalimat doa. Andai kata ia tidak memiliki keistimewaan lainnya, posisi Jausyan yang merupakan kumpulan kalimat doa saja pun sudah cukup menjadi sebab untuk meletakkannya sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai mulia. Padahal masih ada keistimewaan lain yang dimilikinya. Keistimewaan lainnya akan diisyaratkan dalam penjelasan berikutnya dalam tulisan ini. Jika demikian, mengkritik doa jausyan hanya karena faktor cacat yang dimiliki sanadnya saja tidak bisa dikatakan sebagai sebuah tindakan yang adil.


Tanya: Apa saja sarana yang diperlukan untuk mendapatkan inayah Ilahi dalam menggapai ufuk keridaanNya?

a.  Tawajuh kepada Allah

Tawajuh kepada Allah adalah hal yang sangat penting bagi para pahlawan cinta dan kasih sayang yang bertekad meraih rida Allah. Sebagaimana perkembangan karakteristik personal dari umat manusia dapat terwujud berkat tawajuh kepada Allah, demikian juga perkembangan usaha khidmat –dakwah– sebagaimana bunga-bunga yang mekar menghadap ke arah matahari, hanya mungkin akan terjadi berkat bertawajuh kepadaNya. Jika seandainya umat manusia memutus tawajuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia akan masuk dalam ketergelinciran cara pandang terhadap Allah subhanahu wa ta’ala – yang merupakan Zat yang suci dari keterbenaman dimana semua entitas yang maujud bertawajuh kepadaNya – dikarenakan tenggelamnya diri dalam dunia angan-angannya.  Untuk itu, tawajuh kepada Allah dalam dimensi tauhid, rida, dan keikhlasan amatlah penting demi diraihnya inayat Ilahi dan ia merupakan salah satu jalan yang tak bisa diabaikan demi terjaganya nyala kehidupan.  Orang-orang suci yang telah menyerahkan hatinya untuk tujuan yang mulia – dakwah – selama mengikuti prinsip penting ini, dalam setiap khidmat yang mereka lakukan, sudah pasti mereka akan mendapat keuntungan  dalam kehidupan personalnya  walaupun mungkin mereka tidak mampu menggapai kesuksesan dari segi materi.


Pertanyaan: Syakhsiyah Maknawiyah adalah salah satu istilah yang sering Anda gunakan. Dapatkah Anda menjelaskan apa yang Anda maksud dengan istilah ini?

Jawab: Jamaah adalah sekelompok orang  dengan pemikiran, perasaan, keyakinan, dan doktrin tertentu yang secara sadar berkumpul. Sedangkan komunitas adalah massa yang berkumpul untuk mencapai atau mewujudkan tujuan tertentu, baik dengan persamaan pemikiran, perasaan, keyakinan, dan doktrin maupun tidak. Orang-orang yang berkumpul membentuk komunitas, walaupun tampak bersatu untuk tujuan tertentu, namun tujuan dan pemikiran masing-masing anggotanya bisa berbeda-beda. Ketika tujuan tersebut tidak mampu dicapai, komunitas itu bisa bubar kapan saja.

Sedangkan pada jamaah, dikarenakan tidak terdapat perbedaan tujuan dan harapan, kecuali perbedaan ijtihad, maka kemungkinannya untuk bubar dapat dikatakan tidak mungkin. Mereka berkumpul di dalam sesuatu yang diyakini bersama, sehingga berkumpulnya mereka selain merupakan sebuah tugas, ia juga sebuah ibadah yang mengandung nilai-nilai agung. Misal terkait hal ini, tidak ada satupun manusia yang akan muncul dengan tujuan berbeda selain untuk meraih keridhoan Ilahi lalu ketika berhaji akan mengatakan “Saya tidak mau wukuf di Arafah. Saya juga tidak mau shalat ied berjamaah.” Ya, yang mengumpulkan kita di sini adalah perintah Allah dan tujuannya pun sudah jelas. Dibandingkan dengan  perintah ini, tidak ada sesuatupun di dunia atau bahkan dunia itu sendiri yang bernilai walau hanya sebesar zarah. Sebelumnya perlu kami sampaikan bahwasanya dalam setiap kaidah universal selalu terdapat pengecualian. Oleh karena itu,  sembari melakukan generalisasi, gagasan yang kami sampaikan ini tidak melupakan peluang munculnya sosok-sosok yang masuk dalam kategori pengecualian ini. Akan tetapi, mereka di hadapan  jammi ghafir atau mayoritas tidaklah memiliki nilai yang berarti. 


Pertanyaan: Amalan apakah yang dilakukan Mus’ab ibn Umair sehingga membuatnya menjadi Mus’ab ibn Umair yang kita kenal?

Jawaban: Mus’ab ibn Umair bukanlah ashabul kiram yang paling agung. Akan tetapi, tidak ada keraguan bahwasanya dari segi kehidupannya yang mulia beliau telah menunaikan misi yang setara dengan misi yang diemban oleh sahabat-sahabat teragung. Terkait pembahasan ini, sebelumnya kita perlu ingat kembali penjelasan berikut ini: Allah pada periode waktu tertentu menganugerahkan sosok-sosok tertentu kepada Islam dimana sebagian besar dari mereka itu tidak ada bandingannya. Jika mereka hidup pada masa yang berbeda, misalnya hidup pada hari ini atau kemarin, bisa jadi misi yang pernah mereka tunaikan tersebut tidak mampu meraih cakupan pengaruh yang sama. Demikian juga Sayyidina Mus’ab bin Umair. Beliau adalah seseorang yang kepadanya dipercayakan misi yang dengan kriteria di masa itu, ia sebenarnya memikul misi yang tak kalah hebatnya dengan misi yang diemban sahabat-sahabat teragung seperti Sayyidina Hamzah, Sayyidina Abdullah bin Jahsy, dan sebagainya.