Pada bagian lalu kita telah membahas berbagai sifat dan karakter yang dimiliki para “pewaris bumi” secara sekilas. Berikut ini saya ingin menyampaikan penjelasan yang lebih rinci mengenai topik ini.

SIFAT-SIFAT PARA PEWARIS BUMI:

SIFAT PERTAMA

Sifat pertama yang dimiliki para pewaris bumi adalah iman yang sempurna. Al-Qur`an telah menyatakan bahwa iman kepada Allah s.w.t. adalah tujuan utama dari penciptaan manusia dengan segala makrifat, mahabbah, kerinduan, dan berbagai sifat rohaniah yang dimiliki oleh makhluk Allah yang satu ini. Sebab itu, maka manusia selalu memikul tanggung jawab (mukallaf) untuk membangun dimensi keimanan dan pemikirannya. Terkadang hal itu dilakukan dengan menempuh berbagai jalan yang dapat mengantarkannya pada kedalaman entitas alam semesta, dan terkadang hal itu dilakukan dengan memungut hikmah yang ditemukan di sekelilingnya untuk kemudian menerapkannya pada dirinya. Ketika itu terjadi, pastilah hakikat penciptaan yang tersembunyi di dalam jiwanya akan muncul ke luar.

Tanpa cahaya keimanan, seseorang tidak akan mampu mengenali dirinya sendiri, mengetahui kedalaman jati dirinya, tujuan penciptaan alam semesta, atau pun mengetahui apa yang terjadi di balik semua yang tampak di hadapannya. Dengan bimbingan cahaya imanlah seseorang akan mampu memahami semua entitas dari segala dimensinya.


Sudah ada begitu banyak klaim atas kebangkitan baru yang kita dengar dari berbagai era dan wilayah tertentu di dunia dengan berbagai macam jargon yang berbeda. Tapi tentu saja benar-tidaknya semua klaim tersebut selalu terbuka untuk didiskusikan di setiap saat. Namun di sana ada sebuah dunia yang benar-benar bangkit dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah dunia yang mampu merangkum seluruh entitas dan rahasia yang terkandung di balik tirai jagad raya, manusia dan kehidupan, dengan bebas dan merdeka dari segala belenggu. Dunia yang satu ini, dalam kesadaran jangka panjang, adalah dunia kita.

Sampai saat ini, bumi masih terus berputar dan berguncang dengan amat kuat. Meski bumi mengalami berbagai guncangan, namun ia tetap mampu mewujudkan semua yang sekarang kita lihat serta tetap memiliki kekuatan untuk membangkitkan kehidupan baru setelah kematian!

Kalau pun kita semua mati, maka bumi selalu memiliki komposisi biologis yang membuatnya mampu melahirkan berbagai makhluk hidup yang baru. Setelah sekian lama berbagai macam suku bangsa mendiami bumi, ia tetap memberi kesempatan kepada manusia untuk melanjutkan kehidupan mereka di permukaannya. Ya. Bumi memang selalu tersedia bagi generasi selanjutnya untuk mengambil pelajaran dari masa lalu. Manusialah yang harus mampu dengan sebaik-baiknya menjadikan perjalanan sejarah mereka selama menghuni bumi sebagai “darah dan daging” bagi kehidupan mereka di saat ini dan di masa depan.


Selama berabad-abad, masyarakat Dunia Islam selalu berputar-putar di dalam lingkaran setan sambil terus mengulangi berbagai kesalahan yang sama tanpa pernah mampu menemukan jati diri mereka sendiri. Ketika mereka berhasil maju satu langkah ke depan, hal itu selalu disusul dengan kemunduran sekian langkah ke belakang atau dengan penyimpangan dari jalan yang lurus.

Tentu saja semua penyimpangan terkutuk itu menyebabkan terjadinya kesalahan yang jauh lebih besar daripada kebenaran serta menenggelamkan kemaslahatan ke dalam kubangan kemudaratan. Bukan hanya itu, ia juga memberi dampak negatif terhadap umat yang ingin kembali kepada jati dirinya yang sejati. Karena dengan penyimpangan seperti itulah banyak individu di tengah umat yang terguncang dan goyah kepribadiannya. Semua ini membuktikan bahwa persatuan dunia telah peah dan roda peradaban semua bangsa tengah menggelinding ke arah yang tidak semestinya.

Sebab itu, maka kita meyakini bahwa Dunia Islam harus diarahkan ke sebuah gerakan pembaruan pada semua aspek meliputi pemahaman keimanan, pola nalar terhadap Islam, karakter yang baik, kecintaan terhadap agama, logika keberagamaan, metode berpikir, dan peningkatan kualitas pribadi, yang kesemuanya dilakukan secara teratur melalui berbagai lembaga dan institusi yang kompeten.


Tampaknya kondisi tertindas inilah yang dulu telah dinubuatkan oleh Rasulullah s.a.w. ketika beliau bermunajat kepada Allah untuk memohon perlindungan dari “kekerasan orang jahat dan kelemahan orang bertakwa” (jalad al-fâjir wa ‘ajz al-taqiy).

Tidak dapat dipungkiri, guncangan pemikiran dan logika nalar kaum muslim –yang merembet pada kelambanan, kejumudan, kontaminasi, dan kerusakan- memang telah menjauhkan umat Islam dari jalan lurus yang telah ditetapkan al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah. Selain itu, semua keburukan tersebut juga telah menghalangi cahaya kebenaran Islam yang universal hingga membuat pancaran sinar Islam tidak mampu menyebar ke penjuru dunia. Telah tampak jelas bahwa untuk memulihkan kondisi krisis parah yang dapat kita lihat telah menimpa kaum muslimin akhir-akhir ini, khususnya pada pemimpin mereka, tidaklah cukup hanya dengan mendirikan sekolah di tengah masyarakat muslim atau pun dengan menyelenggarakan seminar dan tablig akbar semata.

Satu-satunya cara untuk mengangkat harkat umat Islam dari keterpurukan yang tengah mereka alami di tengah kemajuan sains dan teknologi yang berkembang saat ini adalah dengan menemukan kembali jati diri kita yang sebenarnya dan dengan menggali kembali nilai-nilai, pola nalar, dan tatanan hidup rasional yang diajarkan Islam. Selain itu, umat Islam juga harus selalu memiliki gairah, tekad, kesabaran, cita-cita, dan keteguhan hati yang cukup.


Bumi selalu berputar tanpa henti. Seiring dengan rotasinya di garis orbit, bumi selalu setia dengan ketentuan yang telah ditetapkan untuknya. Tapi apakah para pewaris bumi[1] telah siap mengembalikan kekayaan yang selama ini hilang? Apakah mereka siap merebut kejayaan yang telah direnggut dari tangan mereka?

Kita tentu menyadari bahwa kebenaran sejati adalah satu hal, sedangkan kebenaran yang terealisasi dalam kehidupan adalah hal lain yang berbeda. Ketika kebenaran sejati belum terealisasi dengan segala nilai intrinsik yang terkandung padanya, maka ia hanya menjadi mimpi kosong setelah sebelumnya pernah diterapkan oleh satu umat atau komunitas tertentu. Sementara itu dalam kehidupan nyata, “kebenaran” akan selalu berada di tangan umat yang secara relatif paling unggul dalam “kebenaran”. Itulah yang akan terjadi, sampai kebenaran sejati kembali ke tangan pada “pemiliknya” yang sah.

Allah s.w.t. menyatakan di dalam al-Qur`an: “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS al-Anbiyâ` [21]: 105). Tidak ada seorang pun di antara kita yang boleh meragukan janji Allah ini. Hari yang dijanjikan itu pasti datang, sebab itulah janji-Nya yang pasti benar.


Akhir-akhir ini, Dunia Islam tengah mengalami krisis luar biasa yang menyerang hampir seluruh sendi kehidupan kaum muslimin. Mulai dari akidah, akhlak, pola pikir, pendidikan, produktivitas, tradisi, budaya, bahkan hingga ranah sosial-politik, tak ada yang luput dari krisis ini.

Di masa lalu, umat Islam telah berhasil membangun sistem pemerintahan paling sempurna yang pernah ada dalam sejarah manusia. Sebuah sistem pemerintahan yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Selama sekian abad umat Islam menjadi umat yang paling teguh dalam berpegang pada agama mereka serta menjadi umat yang paling luhur akhlaknya dan paling sempurna kebudayaannya. Semua keunggulan itu membuat mereka layak menjadi pemimpin dunia dengan wawasan mereka yang sangat luas dalam bidang politik, sosial, dan pemikiran.

Semua itu dapat terjadi karena dulu umat Islam selalu menjalankan syariat Islam tanpa cacat dengan keluhuran akhlak dan rasionalitas yang matang hingga mereka pun mengungguli semua umat lain di sepanjang sejarah manusia. Pada masa keemasan itu, kaum muslimin mampu melebarkan sayap kekuasaan mereka dengan menggunakan tiga hal, yaitu: inspirasi, rasionalitas, dan pengalaman.