Sampai saat ini, kita belum pernah menemukan satu pun ideologi yang mampu menghimpun seluruh umat manusia dalam waktu lama. Bahkan kita tidak pernah menemukan satu pun ideologi yang mampu mengetahui apa saja kebutuhan yang harus ada untuk menghimpun seluruh manusia di bawah satu atap. Dengan berbagai macam klaim yang kita dengar, negara-negara barat yang menguasai sebagian besar dunia beberapa waktu lalu, ternyata tidak mampu mewujudkan keamanan dan kesejahteraan yang berkesinambungan di dunia. Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat sosialis dan komunis di timur. Demikian pula halnya dengan kelompok “netral” yang keberadaan mereka sama dengan ketiadaan mereka, yang oleh Jamîl Marîj disebut sebagai Rijâl al-A’râf.

Tentu saja, kegagalan dalam mewujudkan janji-janji ini menggoyahkan sendi-sendi kepercayaan orang-orang yang berada pada posisi “penerima”. Apalagi ketiadaan solusi yang tepat untuk menjangkau seluruh dunia, ketidakmampuan untuk mengayomi seluruh umat manusia, dan penyimpangan terhadap naluri manusia, telah memerosokkan semua orang ke dalam krisis kepercayaan, atau bahkan menjerumuskan mereka ke dalam keraguan terhadap janji-janji yang dilontarkan oleh siapapun juga!


Tidak diragukan lagi bahwa yang kami maksud dengan “wujud jati diri” adalah refleksi hasrat internal yang kita miliki yang dibangun dari warisan peradaban dan kebudayaan kita sendiri; untuk kemudian diubah menjadi “poros” di mana kita mengorbit di sekelilingnya. Tampaknya banyak orang di zaman kita memahami kata “jati diri” sebagai sebuah semacam folklor yang tidak memiliki hubungan dengan akar “moralitas” umat kita atau pun dengan “insting” yang menyembul ketika umat manusia merasakan kebutuhan pada pemuasan hasrat “jasmani”-nya. Atau ada yang menganggapnya sebagai sebuah upacara yang diselenggarakan dalam jamuan makan, hari raya, atau pesta pernikahan.

Bagi kita, yang dimaksud dengan “jati diri” memiliki makna yang jauh lebih luas, menyeluruh, dan mendalam. Jati diri merupakan sesuatu hal yang efeknya terasa di semua sendi kehidupan masyarakat; sesuatu yang nutrisinya bersumber dari memori, emosi, dan nurani kolektif suatu umat seiring berjalannya waktu, sejak zaman dahulu kala sampai zaman kita sekarang ini. Jati diri itulah yang ter-refleksi dan mengejawantah pada perasaan, pemikiran, ucapan, imajinasi umat yang bersangkutan. Jati diri itulah yang kemudian hidup dalam kebiasaan, adat-istiadat, dan tradisi kita karena jati diri itulah yang menjadi elemen terpenting di kedalaman kesadaran kehidupan kita di sepanjang masa.


Sesungguhnya sebagai umat, saat ini kita harus mengetahui semua program dan langkah-langkah yang kita lalui menuju masa depan berikut setiap tahapan yang akan kita lewati dalam perjalanan kita. Masyarakat kita belum lama mengalami kepungan berbagai kejadian memilukan yang mengguncang kita dan membuka mata kita untuk melihat masa dalam kabut dan gemuruh guntur yang membuatnya seperti kiamat! Sungguh amatlah sulit –dengan kondisi saat ini- untuk dapat melihat dengan jelas tujuan dan sasaran yang akan “menghidupkan” umat kita. Selain itu, kita juga menjadi sulit untuk menentukan tujuan jangka pendek yang tepat yang akan mengantarkan kita ke tujuan. Kita pun menemukan diri kita tenggelam dalam kabut pekat yang menjadi episentrum gempa yang mengguncang kita. Bahkan bisa jadi sebenarnya itu adalah kondisi yang menunjukkan kenyataan internal dan eksternal umat ini.

Ya. Memang sulit atau bahkan mustahil, tapi yang mengejutkan adalah cita-cita umat untuk bangkit dan mendaki menuju puncak kepribadiannya tetap terbentuk. Bahkan umat ini mampu bersinergi dengan masa-masa sulit ini, setelah sebelumnya terseret ke arah ketidakberdayaan di semua aspek kepribadiannya sehingga ia menjadi mudah dijarah dan “layak untuk dijajah”. Semua ini adalah sesuatu yang berada di luas kebiasaan. Karena perasaan individual telah goyah dari pondasinya, dan umat selalu bingung dan gundah di tengah gempa mahadahsyat yang menerpa, sementara umat manusia hancur lebur dalam kesulitan terparah yang pernah terjadi dalam sejarah manusia.


Sejak zaman dahulu kala sampai saat ini, pelbagai bangsa di dunia telah melahirkan berbagai macam komunitas yang menyebar di banyak negara yang ada di permukaan bumi yang luas ini. Terkadang, kondisi seperti ini terjadi sebagai representasi dari keseimbangan alam. Tapi siapa yang tahu kalau kita sebenarnya akan melihat satu bangsa lain yang serupa dengan bangsa-bangsa yang telah ada, tapi bangsa ini sama sekali baru baik dari segi penampilan, peradaban, maupun kulturnya. Peradaban Romawi, Mesir, Yunani, China, dan Hindustan –sebagaimana pula Turkistan yang menjadi buaian bagi banyak peradaban- telah mengukir jejak mereka masing-masing di atas lembaran sejarah umat manusia secara umum. Adapun jejak yang ditinggalkan Islam pada lembaran itu selama berabad-abad di pelbagai benua telah menjadi elemen penyeimbang bagi kehidupan, karena ia menjadi peradaban unik yang memiliki karakter yang khas.

Sejarah telah menyaksikan bahwa keberhasilan mencapai puncak tidak dapat dilakukan dalam satu gerakan atau dalam satu periode tertentu. Akan tetapi, seperti yang juga dapat kita lihat dari kondisi fisik bumi ini, bahwa puncak-puncak gunung terus berputar dan berganti tempat dengan lembah, pantai, dan jurang. Di atas pentas sejarah manusia kita telah melihat orang-orang yang tampil terus datang dan pergi silih berganti. Ketika tampil satu tokoh, maka pasti setelahnya akan tampil tokoh lain untuk mengisi perputaran roda sejarah yang tak pernah berhenti berputar. Ketika mengarungi samudera kehidupan, berbagai macam serangga yang bersemayam di kelopak-kelopak bunga terkadang dengan senang hati menerima kehadiran jenis serangga tertentu, sementara di saat yang sama mereka ternyata menolak jenis serangga yang lain. Amatlah mungkin jika satu bangsa mampu melompat dari satu puncak ke puncak lainnya dengan lincah, sementara ada satu bangsa lain yang tak kunjung mampu melesakkan kepala mereka ke lubang perlindungan seperti seekor burung unta yang dungu, meski mereka semua hidup di satu babak sejarah yang sama. Itulah sebabnya kita tidak dapat mengatakan bahwa Abad Pertengahan (Middle Ages) adalah sebuah masa kegelapan bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana pula halnya di era teknologi maju saat ini kita tidak dapat mengatakan bahwa seluruh bangsa di dunia telah tercerahkan oleh pancaran cahaya ilmu pengetahuan.


Di dunia Islam, perlahan-lahan berbagai bangunan pemikiran luhur yang kita miliki menjadi hancur satu demi satu, sepotong demi sepotong, disebabkan hantaman godam penghancur yang terus bekerja dengan diam-diam selama berabad-abad.

Di tengah dunia yang rusak seperti ini jumlah sosok pembangun tentu sedikit, sehingga membuat posisi pribadi pembangun menjadi begitu mulia. Nah, Ustadz Fethullah Gülen adalah satu di antara sedikit di antara sosok pembangun yang selalu berusaha menegakkan bangunan pemikiran yang telah hancur.

Buku berjudul “Membangun Peradaban Islam” yang berada di tangan Anda ini menjadi sebuah rambu penanda di antara sekian banyak rambu penanda aktivitas pembangunan pemikiran yang diupayakan untuk diperbaiki kembali serta didirikan di atas landasan yang kuat dan kokoh agar dapat selamat mengarungi dinamika dan gelombang dahsyat perjalanan zaman serta cukup tangguh untuk menahan gempuran godam penghancur yang terus menghantam. Di dalam buku ini Anda akan menemukan banyak obat penawar yang dapat menyehatkan ruh peradaban kita serta menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Obat yang diracik di dalam buku ini sepenuhnya mengandalkan praktik pembangunan pondasi peradaban yang telah diprediksi kemanjurannya melalui sesuatu yang dapat kita sebut dengan istilah “spiritualitas ilmiah” (al-rûhiyah al-ilmiyah) yang merupakan perpaduan antara dimensi pemikiran spiritual dan pemikiran ilmiah. Jadi obat ini sama sekali tidak berasal dari pemikiran kosong-imajinatif, melainkan dari pemikiran empiris-faktual. Semua sekolah yang diharapkan untuk berdiri di seluruh penjuru dunia harus mengandalkan metode seperti ini dalam falsalah pendidikan dan pengajarannya.