Pertanyaan: Dalam sebuah hadis qudsi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ممَنْ عَادٰى لِي وَلِيًّا فَقَدْ اٰذنْتُهُ بِالْحَرْبِ ’Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya (HR Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ , I/34, no. 1). Setelah itu, isi dari hadisnya kemudian membahas bagaimana para hamba mendekati-Nya melalui ibadah fardu dan nafilah.  Bagaimana kita seharusnya memahami deklarasi perang, kualitas pendekatan kita kepada Allah, dan hubungan antara keduanya?[1]

Jawab: Selain hadis ini, dalam beberapa ayat berbeda di Al-Qur’an terdapat pembahasan tentang kekasih-kekasih Allah.  Misalnya dalam surat Yusuf terdapat berita gembira bagi para kekasih Allah: أَلَۤا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Yunus 10:62). Pada kelanjutan ayatnya terdapat penjelasan: الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa (QS Yunus 10:62). Melalui dua ayat ini, Allah sedang menarik perhatian kita kepada dua karakter penting yang dimiliki oleh para kekasih-Nya. Yaitu iman yang kamil dan takwa.  Pada ayat selanjutnya dibahas: لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” Janji Allah tidak akan pernah berubah. Melalui pernyataan “Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar” ditekankan bahwa para waliullah yang memiliki karakter-karakter tersebut akan mendapatkan ganjaran yang demikian baik.


Pertanyaan: Bagaimana tekad untuk mengikuti Jalan Nabi tercermin dalam kehidupan seorang mukmin? [1]

Jawaban: Seperti diketahui, menurut ulama usuluddin, manusia dapat meraih ilmu melalui tiga jalan, yaitu hawas salimah (indra yang sehat), aql salimah (akal intelektual yang sehat), dan al khabar al mutawatir (berita yang tidak diragukan/disepakati kebenarannya). Salah satu dari tiga jalan tersebut adalah akal. Sebagaimana ia adalah wilayah pikiran kognisi, organ-organ indra yang sehat adalah sarana untuk membantu manusia mendengar, merasa, dan mengevaluasi. Oleh karena itu, manusia akan meraih hakikat pada level tertentu apabila menggunakan indra tersebut pada tempatnya. Demikian juga, seseorang dapat menggunakan hati nuraninya untuk membuka diri pada hamparan keluasan yang berbeda-beda dan merasakan beberapa kebenaran. Ketika Bergson mendefinisikannya sebagai intuisi, literatur kita menyebutnya sebagai hads حدس (firasat).

WAHYU SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN

Akan tetapi, terdapat beberapa hakikat di mana baik akal intelektual, indra, maupun nurani kita tidak mampu melihat, mendengar, merasakan, dan memahaminya. Bahkan beberapa benda dan peristiwa yang harusnya dapat dipahami dengan akal dan indra, sering kali latar belakang dan inti sari hakikinya tidak mampu kita temukan dan pahami. Karena selain aspek-aspek yang diketahui dari suatu benda, ada banyak dimensi berbeda yang mana akal dan indra tidak cukup untuk memahaminya. Apalagi hakikat Zat Uluhiyah dari Allah subhanahu wa ta’ala, akhirat, dan topik-topik seputar alam metafisika, semuanya merupakan bidang yang berada di luar kapasitas pemahaman akal dan indra. Sebagaimana manusia tidak akan mampu mengenal dan memahami hakikat Zat Uluhiyah-Nya melalui akal dan indra, mereka juga tidak akan mengetahui bagaimana cara menghamba kepada-Nya.


Pertanyaan: Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam usaha memberi solusi pada masalah-masalah yang ada di dunia kita pada saat ini?[1]

Jawaban: Pertama-tama, perlu diketahui bahwa Ta’sis, Ishlah, dan Ta’mir yang dengan kata lain dapat disebut sebagai “membangun dan memperbaiki” jika disandingkan dengan “merusak” adalah pekerjaan yang berkali-kali lipat lebih sulit. Misalnya salat, untuk mendirikannya dengan cara yang benar kita harus menunaikannya sesuai dengan seluruh rukun dan syaratnya. Jika salah satu saja rukun dan syarat tadi tidak terpenuhi, maka salat tersebut menjadi tidak sah. Tanpa adanya wudu ataupun tanpa melakukan takbiratul ihram, atau tanpa menghadap ke arah Kiblat, walaupun seluruh rukun dan syarat tersebut terpenuhi, salat tersebut tetap saja tidak sah. Bahkan supaya salat diterima di sisi Allah, agar salat bermanfaat bagi seseorang di akhirat dan menjadi temannya di alam kubur nanti, itu semua bergantung pada kekhusyukan dan ketenangan dalam pelaksanannnya, atau bisa disebut juga bergantung pada pelaksanaan “rukun batin”nya salat. Selain kealpaan yang terjadi pada pelaksanaan syarat-syarat lahiriah, kealpaan yang terjadi pada pelaksanaan rukun-rukun batiniah juga akan menyebabkan terhalangnya salat untuk ditunaikan secara benar. Hal ini juga berlaku pada pelaksanaan ibadah-ibadah dan kewajiban ketaatan lainnya.


Pertanyaan: Sayangnya akhir-akhir ini kekerasan sosial di negara kita semakin berkembang, persentase kejahatan semakin meningkat, keresahan dan pertikaian yang terjadi di antara manusia terlihat semakin hari semakin bertambah. Apa saja yang dapat disampaikan guna mengatasi semua permasalahan ini?[1]

Jawaban : Jika memperhatikan layar televisi dan berita-berita yang tertera dalam pojok-pojok surat kabar terlihat bahwa pernyataan yang disampaikan ini benar adanya. Beberapa peristiwa yang timbul di lingkungan masyarakat seperti pemukulan terhadap para pelayan masyarakat seperti dokter dan guru, pertikaian sesama yang mudah terpercik hanya karena persoalan sepele, penculikan anak dan terkuaknya beragam tindak pelecehan seksual, pembunuhan, penjambretan, dan perampokan yang terjadi secara bergantian, sudah mencapai tingkatan yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Terkadang beberapa kejahatan yang dilakukan demikian menyeramkan seolah-olah tampak bahwa seluruh kecerdasannya digunakan menurut perintah setan.


Pertanyaan: Dalam salah satu hadis, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mulia, bersabda: أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ لِلهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا خَلَصَ لَهُ “Ikhlaslah dalam semua amal perbuatan kalian, sesungguhnya Allah tidak menerima amal, kecuali amal yang ikhlas. Bagaimana kita bisa mendapatkan kesadaran dan kepekaan “perhatian agar amal-amal ditujukan hanya bagi keridhaan Allah semata” sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tersebut?[1]

Jawab: Seorang mukmin sejati yang telah menyerahkan segenap kalbunya pada Allah Subhânahu wa ta’âla, setiap sikap dan perbuatannya hanya ditujukan untuk meraih rida Allah, bahkan tidak sedetik pun menghitung bagian atas diri sendiri, tak pula berkata: “akulah yang berceramah, akulah yang melakukannya, aku telah berbuat ini atau itu”, sebaliknya bahkan menghapus semua kebaikan yang pernah ia lakukan dari ingatannya. Seorang mukmin, terutama ketika ia menyerukan hakikat dan kebenaran, tak akan  pernah melakukannya hanya melalui ‘permainan tenggorokan’ semata. Jika ia berbicara tentang hakikat dan kebenaran, perkataannya tersebut haruslah berasal dari suara hatinya. Ketika sampai pada pencapaian hasilnya, maka ia tidak akan menempatkan sesenti pun dari keberhasilan pekerjaannya tersebut atas dirinya sendiri.


Pertanyaan: Saat berkhidmah di jalan kebenaran, -seiring berjalannya waktu- sebagian orang beranggapan bahwa pekerjaan yang dilakukan terasa monoton dan biasa saja. Lantas apakah hal ini bisa menyebabkan kebutaan pada sistem yang ada? Dan apa yang perlu dilakukan agar kita tidak terjerumus pada kebutaan semacam ini.[1]

Jawaban: Orang-orang yang berkumpul di sekitar tujuan mulia seperti mengukir senyuman di wajah umat manusia dan mengembuskan angin kebahagiaan ke seluruh penjuru dunia, hingga masa ini telah mencurahkan segala daya dan upaya yang dimilikinya demi mewujudkan mimpi-mimpi itu. Tampaknya Allah telah menjadikan usaha mereka berbuah manis. Sebagiannya Ia lipat gandakan menjadi seribu kali lipat hingga mereka pun tercurahi rahmat-Nya; Allah juga telah menjadikan mereka berhasil di jalan ditempuh. Namun, keberlangsungan dari keberhasilan yang merupakan rahmat Ilahi ini bergantung pada terjaganya keikhlasan dan ketulusan yang ada, serta tidak dihilangkan/diabaikannya cita-cita yang menjadi titik fokus pekerjaan/tugas ini.

Naudzubillahi min dzalik, jika kita menempatkan wasilah sebagai tujuan dan menganggap bahwa keberhasilan yang kita dapatkan tersebut berasal dari diri kita, serta menutup mata pada rahmat Ilahi yang tercurahkan kepada kita, maka sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu, kehancuran yang sama pun juga dapat menimpa kita. Pada dasarnya, jika diteliti lebih lanjut latar belakang kekalahan yang dialami oleh umat Islam pada periode-periode sebelumnya terjadi karena adanya pemikiran yang melenceng semacam ini. 


Pertanyaan:  Terkadang orang-orang yang berada di garda terdepan dan menunjukkan keseriusan tinggi dalam menjelaskan kebenaran dan hakikat, bisa saja dalam hubungannya dengan sesama manusia muncul beberapa persoalan seperti perkataan dan sikap yang mungkin menyakiti ataupun memaksakan kehendak kepada orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kita dapat menjaga keseimbangan dalam permasalahan tersebut?

Jawaban: Menderita dengan penderitaan yang dirasakan orang lain dan mengembangkan program-program baru untuk menyelesaikannya merupakan sebuah keutamaan yang sangat penting. Akan tetapi, nilai dari keutamaannya bergantung pada kadar keikhlasannya. Apabila seorang insan mengerjakan hizmet demi meraih pangkat jabatan ataupun imbalan tertentu, maka ia akan terburai seperti beterbangannya jerami saat perontokan gabah. Barangkali mereka yang mengerjakan kebaikan untuk umat manusia bisa saja dipuji, bisa saja namanya diabadikan menjadi nama suatu institusi, bahkan foto-fotonya dipasang di banyak tempat atau dibuatkan patung untuknya. Akan tetapi, apabila ia mengerjakan amal tersebut tidak untuk meraih rida ilahi, maka semua hal tersebut tidak akan memberikan manfaat untuknya. Oleh karena dia hanya mengharapkan pujian dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya, maka ia telah menerima ganjaran dari amal perbuatannya dan menghabiskannya di dunia ini saja.

Dengan kata lain, oleh karena dia telah mengambil imbalannya dari manusia, maka tidak tersisa lagi imbalan dari Allah untuknya. Al-Qur’an membahas hal ini dalam Surat Al-Ahqaf ayat ke-20: أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا yang artinya “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” Hadis sahih juga menjelaskan secara tegas bahwasanya barang siapa berjuang melawan musuh, sibuk dengan ilmu, dan mengeluarkan banyak infak, tetapi berharap imbalan selain rida Allah atas semua amalnya itu, maka ia akan merugi secara ukhrawi (Lihat HR Muslim Bab Imarah no.152, HR Tirmizi Bab Zuhud no. 48).