Setiap orang membahas tatanan dunia baru dan mengevaluasinya dari sudut pandang yang berbeda, menurut pikiran mereka masing-masing. Hal ini sangat alami. Misalnya, orang-orang yang mengalami ketidaknyamanan internasionalisme, bagi banyak orang mungkin menganggap sovinisme (sikap patriotik yang berlebihan) sebagai bentuk penyelamatan dan cenderung ke arah itu. Faktanya, di Asia sekarang ini hampir setiap bangsa, di bawah cita-cita ingin kembali ke sejarah masa lalu, sedang berpaling ke arah nilai-nilainya sendiri sehingga bangsa-bangsa ini sekarang memandang diri menjadi nasionalis. Mengingat situasi sekarang, kita dapat mengevaluasi perubahan pada bangsa Rusia, Uzbekistan, Kazakhstan, dan lain-lain dengan cara ini. Sekarang ini ada sejumlah perubahan dengan signifikansi serupa terjadi di negara-negara lain di dunia. Selama “perubahan” dan “perkembangan” ini tidak merugikan orang lain maka semuanya menjadi normal. Namun, jika kita dapat menemukan cara dan metode yang akan membuat perubahan ini lebih menguntungkan, maka kita bisa mencegah tragedi lebih jauh lagi.

Beberapa perkembangan tersebut mengikuti tahapan berdasarkan agama. Sehubungan dengan ini, kita dapat menyebutkan baik kegiatan yang terorganisasi dan tidak terorganisasi di berbagai belahan dunia. Tidak seperti yang lainnya, mereka mendekati setiap hal dari prinsip bahwa “agama adalah dasar”. Dan secara alami mereka ingin mengevaluasi situasi yang belum diselesaikan sekarang ini sejalan dengan cara berpikir mereka sendiri dan memanfaatkan dan dan mengarahkan orang-orang ke posisi yang diperlukan oleh agama.


Jika hidup dilihat melalui jendela Dia Yang Menberi Hidup, maka harapan adalah dinamika tindakan yang tidak pudar. Ini adalah makanan bagi mereka yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga memikirkan orang lain, bagi mereka yang menemukan kebahagiaan sejati dalam kebahagiaan orang lain dan bagi mereka yang memukan kehidupan dengan memperbaiki kehidupan orang lain; juga merupakan sumber energi yang tidak pernah berkurang bagi mereka yang telah mengabdikan diri pada cita-cita luhur dalam menjalani kehidupan pada tataran hati dan jiwa, setelah membebaskan diri dari penjara waktu, ruang, materi, fisik dan kepentingan pribadi.

Dalam hal ini, pada saat semua orang meyakini bahwa “semuanya sudah berakhir’, ketika tokoh besar sebuah bangsa telah melanggar aturan, saat ketetapan hati dan kehendak lenyap hanyut oleh gempa, badai dan banjir, saat mereka yang telah hidup mapan bergantung pada kantor, pangkat, kekayaan dan kemakmuran dan kekuasaan yang tidak berasal dari pemilik kekuatan dan kekuasaan yang sejati, saat mereka yang, karena tidak mampu menemukan kebenaran, telah menambatkan hati pada bintang-bintang, bulan dan matahari, benda-benda yang memudar dari langit, mulai menghadapi keputusasaan, harapan orang-orang yang memiliki cita-cita, maka orang-orang ini, yang kita gambarkan dalam baris-baris awal di atas, begitu berani sehingga dalam segala situasi, mereka bisa menantang alam semesta. Mereka melanjutkan perjalanan tak tergoyahkan, bahkan jika perhitungan dan rencana mereka harus gagal lima puluh ribu kali, mereka tetap merasa makmur meskipun dalam keadaan miskin. Mereka menjadi hidup bagi jiwa-jiwa yang mati dan menjadi kekuatan bagi mereka berlutut.


Saya ingin memperjelas bahwa setiap kegiatan teroris, tidak peduli siapa yang melakukannya atau untuk tujuan apa, adalah pukulan terbesar bagi perdamaian, demokrasi, dan kemanusiaan. Untuk alasan ini, tidak seorangpun—dan tentu saja termasuk seorang muslim—dapat menyetujui setiap kegiatan teroris. Teror tidak memiliki tempat dalam upaya untuk mencapai kemerdekaan atau keselamatan. Teror merenggut kehidupan orang-orang yang tidak bersalah.

Meskipun tindakan seperti itu tampaknya merugikan target, semua kegiatan teroris akhirnya jauh lebih merugikan para teroris itu sendiri dan pendukung mereka. Kegiatan teroris yang terakhir ini, yang merupakan salah satu yang paling berdarah dan terkutuk, bukan sekedar serangan terhadap Amerika Serikat—tetapi merupakan serangan terhadap perdamaian dunia serta terhadap nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan universal. Mereka yang melakukan kekejaman ini hanya layak disebut sebagai orang-orang yang paling brutal di dunia.

Saya tegaskan bahwa Islam tidak menyetujui terorisme dalam bentuk apapun. Terorisme tidak dapat digunakan untuk mencapai tujuan apapun dalam Islam. Tidak ada teroris bisa menjadi seorang muslim, dan tidak ada muslim sejati bisa menjadi seorang teroris. Islam menghendaki perdamaian, dan al-Qur’an menuntut agar setiap muslim yang sejati menjadi simbol perdamaian dan bekerja untuk mendukung pemeliharaan hak asasi manusia. Jika sebuah kapal membawa sembilan penjahat dan satu orang yang tidak bersalah, Islam tidak memperbolehkan untuk menenggelamkan kapal dalam rangka menghukum sembilan penjahat itu; tindakan ini akan melanggar hak-hak satu orang yang tidak bersalah.


Seperti di masa lalu, sekarang juga ada beberapa ramalan yang dibuat tentang masa depan. Salah satunya adalah klaim mengenai masa depan sebagai era informasi. Orang-orang yang membahas masa depan dengan cara ini biasanya disebut futuris. Ada banyak orang yang melihat orang-orang yang membuat jenis ramalan ini sebagai peramal milenium kedua. Namun, bukannya evaluasi objektif, beberapa klaim yang dibuat terkait dengan masa depan dalam hal siklus historis adalah upaya-upaya untuk mengembangkan gagasan-gagasan sekitar beberapa keinginan tertentu dan karena itu upaya-upaya tersebut tidak membawa nilai lebih dibandingkan dengan prediksi-prediksi lainnya. Dengan kata lain, saya berpikir bahwa sebagai akibat dari klaim ini, orang-orang membuat harapan dengan cara yang sama bahwa mereka mengharapkan jawaban atas doa. Jadi, sembari mengatakan bahwa harapan yang dihasilkan oleh jenis klaim ini bahwa “masa depan akan seperti ini” melahirkan upaya-upaya tertentu ke arah itu, harapan-harapan ini akhirnya menjadi target dan tujuan. Setelah tujuan ditetapkan, strategi dan kebijakan yang berbeda akan dibuat untuk mencapai tujuan dan upaya akan dilakukan untuk memenuhinya. Saya rasa inilah inti masalahnya.

Seiring dengan ini, ada perpanjangan misi kenabian Rasulullah saw sampai zaman modern melalui garis perwakilan, melalui orang-orang seperti Muhyiddin ibn al-‘Arabi, Imam al-Ghazali, Imam Rabbani, Maulana Khalid, dan Badiuzzaman. Kita berharap bahwa fungsi garis transmisi yang beruntung ini adalah untuk menyiapkan landasan bagi kelahiran kembali semangat kenabian dalam tahun-tahun mendatang, dan, dalam hal ini, kita berharap bahwa semangat ini akan hidup kembali. Tentu saja, Nabi saw tidak akan ada di sana, tetapi Islam, dalam pemahaman murni para Sahabat, akan selalu siap untuk menyambut hidup sekali lagi.


Sama seperti setiap subuh, setiap matahari terbit, dan setiap musim semi datang menandakan sebuah awal dan harapan baru, begitu juga setiap abad baru dan milenium baru. Dalam hal ini, dalam roda waktu, di mana kita tidak memiliki kontrol, manusia selalu mencari harapan hidup baru, napas sesegar angin fajar, dan berharap dan ingin melangkah menuju cahaya, meninggalkan kegelapan, seolah-olah melintasi ambang perbatasan.

Kita hanya bisa berspekulasi kapan tepatnya manusia pertama muncul di bumi. Bumi sama dengan langit karena telah menggelar ciptaan Tuhan dan karena makna ontologis yang terkandung; nilai bumi sebagian besar berasal dari penghuni utamanya: umat manusia. Menurut kalender yang kita gunakan saat ini, kita berada pada milenium ketiga. Namun, karena waktu berputar dan berlangsung dalam relativitas helicoidal, ada ukuran-ukuran waktu yang berbeda di dunia. Misalnya, menurut ukuran waktu yang saat ini diterima secara global, dunia telah menyeberang ke masa seribu tahun yang baru. Menurut kalender Yahudi, kita sudah di paruh kedua milenium kedelapan. Dalam perhitungan waktu Hindu, kita hidup di era Kali Yuga. Jika kita mengikuti kalender Islam, kita sedang mendekati akhir paruh pertama milenium kedua.

Kita harus ingat, bagaimanapun, fakta bahwa setiap ukuran waktu tidak lebih dari pengukuran relatif. Sementara periode 100 tahun diasumsikan untuk ukuran satu abad, gagasan satu abad sama dengan 60 tahun, berdasarkan rentang kehidupan rata-rata manusia, juga layak dipertimbangkan. Dari sudut pandang ini, kita sudah di milenium keempat Masehi, dan milenium ketiga Hijriah (perpindahan Nabi saw dari Mekah ke Madinah), titik awal dari kalender Islam. Saya mengangkat msalah ini karena ada orang yang menderita ketidaknyamanan secara sipritual yang ditimbulkan oleh pertanda menakutkan yang diyakini terkait dengan milenium baru ini, terutama di Barat.


Agama khususnya Islam, telah menjadi salah satu bidang studi yang paling sulit ditangani dalam beberapa tahun terakhir. Budaya kontemporer, baik didekati dari perspektif antropologi maupun teologi, psikologi maupun psikoanalisis, menilai agama dengan metode empiris. Di satu sisi, agama adalah pengalaman batin dan fenomena yang dirasakan, yang sebagian besarnya, adalah berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan yang permanen. Di sisi lain, orang-orang yang beriman dapat melihat agama mereka sebagai sebuah filosofi, seperangkat prinsip-prinsip rasional, atau mistik belaka. Kesulitan meningkat dalam kasus Islam, karena beberapa orang Islam dan pembuat kebijakan menganggap dan menampilkannya sebagai ideologi politik, sosiologi, dan ekonomi secara murni, ketimbang sebagai agama.

Jika kita ingin menganalisa agama, demokrasi, atau sistem lainnya atau filsafat secara akurat, kita harus fokus pada kemanusiaan dan kehidupan manusia. Dari perspektif ini, agama pada umumnya, dan Islam pada khususnya, tidak dapat dibandingkan dengan basis yang sama dengan demokrasi atau sistem politik, sosial, atau ekonomi lainnya. Agama berfokus terutama pada aspek kehidupan dan keberadaan yang kekal, sedangkan sistem politik, sosial, dan ekonomi atau ideologi hanya berkenaan dengan aspek-aspek variabel sosial tertentu saja dalam kehidupan duniawi kita.


Karena kehidupan “sejati” hanya dapat diraih melalui pengetahuan, mereka yang enggan belajar dan mengajar dianggap “mati”, meskipun secara biologis hidup. Kita diciptakan untuk belajar dan untuk mengkomunikasikan apa yang telah kita pelajari kepada orang lain.

Kehidupan sejati adalah kehidupan pada tataran spiritual. Orang yang hatinya hidup, yang menaklukkan masa lalu dan masa depan, bisa melampaui batasan-batasan waktu. Orang-orang seperti ini tidak pernah terlalu tertekan oleh duka-cita masa lalu atau terlalu cemas akan masa depan. Orang yang tidak bisa mengalami kehidupan secara penuh dalam hati, yang menjalani hidup secara dangkal, selalu suram dan cenderung putus asa. Mereka menganggap masa lalu sebagai kuburan mengerikan, dan melihat masa depan sebagai lubang sumur yang tak ada dasarnya. Mereka hidup dalam penderitaan, bertanya-tanya apakah mereka akan hidup atau mati.

Kita semua adalah pelancong, dan dunia adalah sebuah eksibisi dan kitab yang penuh warna-warni. Kita dikirim ke dunia untuk mempelajari kitab ini, untuk meningkatkan pengetahuan spiritual kita, dan untuk mengentaskan orang lain. Perjalanan penuh warna dan menyenangkan ini adalah peristiwa yang hanya terjadi satu kali. Bagi yang perasaannya waspada dan yang hatinya terjaga, perjalanan ini lebih dari cukup untuk membangun sebuah taman yang mirip surga. Tapi bagi yang matanya tertutup, seolah-olah semuanya berjalan dalam sepenggal napas.