Rasulullah Saw. adalah puncak dari semua aspek dan sendi kehidupan. Ketika seseorang ingin meneliti tentang Rasulullah, maka janganlah ia melakukan hal itu dengan membandingkan Rasulullah dengan manusia lain atau dengan para tokoh di masa beliau. Tapi yang harus ia lakukan adalah meneliti kepribadian Rasulullah di puncak ketinggian dengan cara “menerbangkan” imajinasinya setinggi mungkin agar ia tidak salah dalam menarik kesimpulan mengenai kebesaran dan kehebatan Rasulullah Saw.

Ya. Siapapun yang ingin meneliti pribadi Rasulullah, hendaknya meneliti pribadi beliau dari ketinggian cakrawala beliau sendiri, bukan dari kedangkalan manusia biasa seperti kita. Hal ini harus dipahami karena Allah telah menganugerahi Rasulullah berbagai pencapaian tertinggi dalam segala bidang.

Rasulullah hidup laksana matahari yang bersinar benderang sebelum akhirnya terbenam menjelang malam. Umat manusia tidak akan pernah menemukan sosok lain yang setara dengan Muhammad Saw. di sepanjang sejarah peradaban. Selain kita sekarang, hal seperti itu dulu juga dirasakan oleh orang-orang terdekat beliau. Ada banyak orang di zaman Rasulullah tidak merasakan kepergian beliau, kecuali setelah muncul perasaan mencekam yang menerkam hati mereka sepeninggal beliau. Hal ini serupa dengan bunga yang menggantungkan hidupnya pada sinar matahari yang tidak menyadari bahwa matahari telah terbenam kecuali setelah matahari benar-benar terbenam dan dirinya terbenam dalam gulita. Ketika gelap datang, mereka pun merasakan takut yang mencekam. Tapi apa mau dikata. Semuanya telah berlalu.


Rasulullah adalah manusia yang paling sempurna dalam menunjukkan sifat Allah “al-Rabb” di bumi. Beliaulah sosok yang paling berhasil mengejawantahkan salah satu nama di antara al-asmâ` al-husnâ ini di dunia, bahkan jika dibandingkan dengan para rasul yang lain sekali pun. Penyebabnya adalah karena Rasulullah memiliki fitrah yang istimewa. Dengan kemampuan Rasulullah dalam merefleksikan nama Allah “al-Rabb” itulah kemudian para sahabat yang menerima tarbiah (al-tarbiyyah) secara langsung dari beliau mampu menjadi manusia-manusia yang paling unggul setelah para nabi dan rasul. Itulah sebabnya kita tidak dapat menemukan manusia lain –selain para nabi dan rasul- yang lebih pantas untuk kita jadikan teladan dibandingkan Abu Bakar r.a., Umar ibn Khaththab r.a., Utsman ibn Affan r.a., atau Ali ibn Abi Thalib r.a.

Namun tampaknya bukan hanya keempat sahabat ini saja yang tidak akan dapat kita tandingi, sebab mungkin semua sahabat Rasulullah tidak akan pernah dapat kita tandingi keistimewaannya, karena mereka semua telah dididik langsung oleh Rasulullah Saw. Meskipun kita juga tidak boleh memungkiri bahwa ada orang-orang setelah generasi sahabat yang hidup di dalam atmosfer tarbiah yang sama dengan yang ada pada masa Rasulullah. Orang-orang itulah yang menjadi permata ratna mutu manikam pada generasi Islam selanjutnya, sehingga kita pantas saja mengatakan bahwa mereka –secara  tidak langsung- telah dididik oleh Rasulullah Saw. dan menjadi kebanggaan bagi umat manusia.