“Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)”

Tanya: Dalam rangka belajar adab memohon dan berdoa kepada Allah serta untuk senantiasa berada dalam keadaan bertawajuh kepadaNya, buku kumpulan doa yang bernama Al Qulubud Daria terlihat amat penting peranannya dimana ia berhasil mengisi kekosongan itu. Akan tetapi, walaupun kita bisa membaca huruf-huruf Al Quran, kita masih belum mampu memahami makna sebagian besar wirid dan zikir yang terdapat di buku tersebut. Terkait hal ini, apa nasihat Anda untuk kami?

Jawab: Al Qulubud Daria bermakna kalbu penuh linangan air mata yang mengetuk pintu Allah, dimana pintuNya adalah satu-satunya tempat untuk berlindung; kalbu yang bersedekap, menunduk, membungkuk di pinggir pintuNya, yang mengemis dan memohon kepadaNya; kalbu yang membuka isi di dalamnya; kalbu yang mencurahkan satu per satu segala masalah yang membebaninya; serta kalbu yang merintih karena terbakar dan dibakar. Untuk merangkum semua makna ini barangkali dapat digunakan istilah “Kalbu yang Meratap”. Buku ini dirangkum dari kitab doa sebanyak tiga jilid yang bernama Majmuatul Ahzab karya Gumushanevi Ahmed Ziyauddin Efendi yang diklasifikasi ulang.


Pertanyaan: Beragam wasilah nan mendukung serta membangkitkan kehidupan agama yang kita sebut sebagai muayyidah (penunjang) memiliki dua pilar penting. Yang pertama ialah “amar bil ma’ruf nahyi anil munkar”, sedangkan yang kedua ialah raqaiq (kelembutan hati). Apakah Anda bisa menjelaskan dua hal tersebut khususnya dari sudut pandang masa kini?[1]

Jawaban: Amar bil ma’ruf nahyi anil munkar ialah mengajak setiap orang terhadap sesuatu yang diperintahkan agama serta mencegah mereka dari perkara-perkara yang dilarangnya. Dalam ungkapan lain, amar bil ma’ruf nahyi anil munkar artinya berperan dalam menyebarkan segala bentuk kebaikan dan keindahan di antara umat manusia, lagi mencegah serta melindungi orang-orang dari segala keburukan dan kejelekan.

SEBUAH TUGAS WAJIB DI ATAS SEGALA KEWAJIBAN

Demi menjalankan tugas ini dalam bentuk yang tersistem dan untuk merangkul semua masyarakat, sejak masa diutusnya Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam telah digunakan berbagai macam wasilah: beragam khotbah dan ceramah diberikan; lingkar-lingkar studi dibentuk untuk menyelenggarakan kajian; Kegiatan-kegiatan ini terus berlanjut hingga saat ini dengan beragam pola dan aksen khas yang berasal dari kultur dan tradisi lokal. Bentuk terbaik dari tugas ini, yang paling hidup, paling berkesan, dan paling besar pengaruhnya termanifestasi dalam majelis-majelis zikir dan sufi. Karena mayoritas tokoh yang menunaikan tugas di sana  menyampaikan pesan-pesannya kepada bangsa dan negara melalui suara hati mereka. Mereka berusaha meyakinkan kalbu setiap orang melalui sentuhan nurani yang melampaui logika; melalui lisan latifah rabbaniyah, sir, dan mungkin juga dengan tutur khafi dan akhfa mereka memasuki jiwa kawan bicaranya sembari mengisinya dengan banyak hal baik seperti asma dan juga sifat-sifat Ilahi. Dengan demikian mereka telah membuat hati kawan bicaranya senantiasa hidup.


Jika kita menginginkan anak kita menjadi Sosok Pemberani, kita seharusnya tidak menakut-nakuti mereka dengan ide-ide dari vampir, hantu, raksasa, dll Kita harus membesarkan mereka sebagai individu yang kuat dengan iman yang teguh yang akan membuat mereka mampu menghadapi segala macam kesulitan.

Jika kita benar-benar menginginkan anak-anak kita memiliki iman, semua sikap dan kepekaan dalam Subjek tertentu, bagaimana cara kita pergi dan bangun dari tidur, bagaimana cara kita mengerahkan diri kita dalam doa, juga bagaimana cara kita melebarkan sayap kasih sayang kita pada anak-anak kita, semua harus mencerminkan iman kita kepada Allah dan hati mereka dipenuhi dengan iman tersebut sehingga hati mereka tidak boleh dibiarkan kosong. Kita harus selalu mencoba untuk menjadi pilihan yang tepat bagi mereka, untuk menghindari segala bentuk perilaku yang mungkin bisa membuat mereka merasa jijik dengan kita.


Mataku terpejam, ku bayangkan masa depan bahagia kan terbentuk di “tanah harapanku”. Keindahan di setiap jenis yang keluar dari sudut eksistensi yang berlari melalui rumah-rumah dan jalanan, juga melalui lembaga-lembaga pendidikan dan sholat kita. Merefleksikan kembali pada kamar-kamar di dalam rumah kita, mereka adalah sampul kita yang dibanjiri cahaya. Dikombinasikan dengan warna, cahaya ini membentuk pelangi, yang ketika saya berjalan di bawahnya terus-menerus men-set-up mata dan jiwa saya sebagai lengkungan dari kebahagiaan akhirat. Meski kita berada di lapisan kedua di bawah lengkung buatan manusia, tampaknya kita tidak mungkin melewati bagian bawah lengkung surgawi (naik) atas kita. Saat kita berjalan di bawahnya, kita merasa bersatu dengan semua kehidupan kita dalam aliran tanpa batas dari sebuah eksistensi. Mengalir kembali pada hiburan yang kita tonton setelah berhenti sejenak pada kedua sisi untuk menyapa kita, dan kemudian diganti dengan yang baru. Kita terpesona dengan aliran baru yang datang dari kesenangan material dan keintiman antara mereka dengan kita.


Tanya: Sebagaimana yang sering disampaikan, kita telah mendapatkan banyak sekali anugerah ilahi jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa dalam  perjalanan sejarah sebelumnya. Apa tugas kita sebagai individu dan masyarakat agar anugerah ini terus berlanjut?[1]

Jawab: Kita sering menyebut rahmat yang dicurahkan Allah kepada kita sebagai bentuk “syukur atas nikmat” tersebut… Bahkan kita harus selalu menyebutnya. Bagaimana mungkin kita tidak mengingat-Nya, sementara kita adalah manusia yang hidup pada masa kekeringan, di mana tanah-tanah retak dan kering secara maknawi, bersimpuh merindukan turunnya setetes hujan. Sejak saat itu, berkat inayat dan anugerah Allah, kita bisa sampai pada hari ini. Memperoleh inayat dan anugerah Allah adalah suatu hal, akan tetapi menjaga keberlanjutannya juga sesuatu yang tidak kalah pentingnya.

Menurut pendapat kami, hal pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga keberlanjutan nikmat adalah dengan mempertahankan keistikamahan di jalan ini tanpa mundur satu langkah pun. Misalnya saat menyetel radio, pertama kita mencari saluran yang kita inginkan. Kemudian kita tetap berada pada saluran yang sudah kita tentukan tersebut dan tidak lagi memindahkan jarumnya ke saluran lain. Mungkin, kita hanya akan memindahkan jarum itu sedikit ke kiri atau kanan pada saluran tersebut, untuk mencoba menangkap gelombang yang paling jelas. Sama halnya dengan ini, maka kita harus menjaga sifat dan perilaku yang menjadi wasilah datangnya nikmat-nikmat tersebut, seperti: keprihatinan, doa dan aksi nyata, serta meningkatkan hal-hal khusus tersebut yang merupakan langkah awal bagi keberlanjutan datangnya rahmat dan karunia Allah.


Terkadang ketika melaksanakan tugas atas nama khidmah untuk agama, bisa jadi hal-hal yang tidak disukai oleh Allah juga dilakukan dan hal-hal seperti ini sering menjadi sebab terhalangnya tugas itu sendiri. Karena itulah Al-Qur’an menghubungkan kesuksesan dengan istigfar, serta menyampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila telah datang kemenangan, teruslah beristigfar kepada Tuhanmu[1]. Sayyidah Aisyah radiyallahu anha berkata: “Setelah turunnya ayat ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang beristigfar di majelisnya sampai 100 kali.”

Inilah jiwanya seorang Nabi. Sebaliknya, kesenangan yang disebabkan oleh keberhasilan dan kemenangan yang dicapai adalah jiwa Firaun, dan jiwa Firaun pasti selalu menekan perilaku mukmin. Sebagai contoh: bahkan ketika pergi ke sebuah tempat atas nama khidmah pun, berperilaku terlalu santai di mobil ataupun di pesawat, sibuk dengan kemegahan duniawi, pastinya bukanlah perilaku rahmani. Ya, khidmah tanpa istigfar dan muraqabah seperti ini adalah penyebab utama dari segala hambatan. Dan saya percaya secara pasti bahwa segala hambatan yang dihadapi itu pasti disebabkan oleh hal ini.