Pertanyaan: Dari peristiwa sedihnya Baginda Nabi atas wafatnya sahabat Saad Bin Khaulah di Mekkah dan doa beliau:

اللَّهُمَّ أَمْضِ لِأَصْحَابِي هِجْرَتَهُمْ، وَلاَ تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ

“Ya Allah, sempurnakanlah hijrah para sahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke tempat asalnya,” pesan apa yang bisa diresapi oleh jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa kini? [1]

Jawaban: Ketika diucapkan kata hijrah, definisi yang paling sempurna dipahami dari istilah tersebut adalah hijrahnya atau migrasinya Baginda Nabi serta para sahabat dari Makkah ke Madinah. Setelah hijrahnya Rasulullah, bisa jadi terdapat hijrah-hijrah yang lebih sulit, lebih banyak rintangannya, dan barangkali juga lebih menakjubkan.  Akan tetapi, tidak ada satu pun dari hijrah-hijrah tersebut yang lebih utama dan sempurna dibandingkan hijrahnya Rasulullah. Dari sisi ini, hijrah-hijrah tersebut dibandingkan dengan hijrahnya Rasulullah dapat dikatakan hanyalah bayangannya belaka. Ini karena kadar dan nilai hijrah, baik dari segi nilai pribadi para muhajirin maupun dari segi daerah tujuan hijrah paralel dengan tugas dan peran yang ditunaikan di sana.


Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan jalan keselamatan? Apa saja prinsip-prinsip jalan keselamatan, baik bagi diri kita pribadi maupun bagi syakhsiyah maknawiyah? [1]

Jawaban: Kata güzergâh merupakan kata serapan dalam Bahasa Turki yang berasal dari bahasa Persia. Ia memiliki arti jalan ataupun adimarga. (1) Akan tetapi güzergâh, sesungguhnya memiliki makna jalan yang harus ditempuh supaya seseorang berhasil mencapai tujuannya. Tujuan ini kadang bersifat duniawi, kadang pula bersifat ukhrawi. Namun, karena tujuan duniawi tidak menjadi tujuan dan cita-cita hakiki dari seorang yang beriman, maka ia akan mengarahkan tujuan dan cita-citanya di jalan keabadian yang bersifat ukhrawi.


Pertanyaan: Dalam sebuah hadis qudsi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ممَنْ عَادٰى لِي وَلِيًّا فَقَدْ اٰذنْتُهُ بِالْحَرْبِ ’Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya (HR Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ , I/34, no. 1). Setelah itu, isi dari hadisnya kemudian membahas bagaimana para hamba mendekati-Nya melalui ibadah fardu dan nafilah.  Bagaimana kita seharusnya memahami deklarasi perang, kualitas pendekatan kita kepada Allah, dan hubungan antara keduanya?[1]

Jawab: Selain hadis ini, dalam beberapa ayat berbeda di Al-Qur’an terdapat pembahasan tentang kekasih-kekasih Allah.  Misalnya dalam surat Yusuf terdapat berita gembira bagi para kekasih Allah: أَلَۤا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Yunus 10:62). Pada kelanjutan ayatnya terdapat penjelasan: الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa (QS Yunus 10:62). Melalui dua ayat ini, Allah sedang menarik perhatian kita kepada dua karakter penting yang dimiliki oleh para kekasih-Nya. Yaitu iman yang kamil dan takwa.  Pada ayat selanjutnya dibahas: لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” Janji Allah tidak akan pernah berubah. Melalui pernyataan “Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar” ditekankan bahwa para waliullah yang memiliki karakter-karakter tersebut akan mendapatkan ganjaran yang demikian baik.


Tanya: Bagaimana kita bisa memahami universalitas Islam?[1]

Jawab: Islam adalah agama yang universal. Islam, menyampaikan pesan-pesannya tanpa membeda-bedakan kaum, suku, bangsa, zaman sekarang, ataupun zaman yang akan datang. Oleh karena itu, sasaran dari pesan-pesannya adalah seluruh umat manusia. Universalitas ini ditunjukkan dengan seruan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad datang. Ketika mereka berseru “Kaumku, kaumku”, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berseru “Wahai umat manusia..”. Hal ini juga didukung dengan ayat, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya: 21/107) dan hadis “Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya.” Hadis ini ibarat setetes air dari samudra yang luas.


Tanya: Di seluruh dunia, untuk melawan sistem yang sedang berjalan muncullah kaum reaksioner[1] yang mengatasnamakan Islam. Apa pendapat Anda dalam hal ini?[2]

Jawab: Sepanjang sejarah, saya tidak ingat ada sesuatu yang menunjukkan bahwa gerakan reaksioner memiliki manfaat atau mereka yang bergerak dengan pemikiran ini kemudian berhasil mencapai tujuannya. Saya tidak akan menyebutkan nama, tetapi di berbagai belahan dunia beragam gerakan reaksioner, baik yang islami ataupun yang non-islami, dalam beberapa waktu kemudian akan terhenti. Di negara kita gerakan demokratik pertama merupakan gerakan reaksioner. Akan tetapi, mereka tak berumur panjang dan telah hilang ditelan waktu. Kini:


Pertanyaan: Bagaimana tekad untuk mengikuti Jalan Nabi tercermin dalam kehidupan seorang mukmin? [1]

Jawaban: Seperti diketahui, menurut ulama usuluddin, manusia dapat meraih ilmu melalui tiga jalan, yaitu hawas salimah (indra yang sehat), aql salimah (akal intelektual yang sehat), dan al khabar al mutawatir (berita yang tidak diragukan/disepakati kebenarannya). Salah satu dari tiga jalan tersebut adalah akal. Sebagaimana ia adalah wilayah pikiran kognisi, organ-organ indra yang sehat adalah sarana untuk membantu manusia mendengar, merasa, dan mengevaluasi. Oleh karena itu, manusia akan meraih hakikat pada level tertentu apabila menggunakan indra tersebut pada tempatnya. Demikian juga, seseorang dapat menggunakan hati nuraninya untuk membuka diri pada hamparan keluasan yang berbeda-beda dan merasakan beberapa kebenaran. Ketika Bergson mendefinisikannya sebagai intuisi, literatur kita menyebutnya sebagai hads حدس (firasat).

WAHYU SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN

Akan tetapi, terdapat beberapa hakikat di mana baik akal intelektual, indra, maupun nurani kita tidak mampu melihat, mendengar, merasakan, dan memahaminya. Bahkan beberapa benda dan peristiwa yang harusnya dapat dipahami dengan akal dan indra, sering kali latar belakang dan inti sari hakikinya tidak mampu kita temukan dan pahami. Karena selain aspek-aspek yang diketahui dari suatu benda, ada banyak dimensi berbeda yang mana akal dan indra tidak cukup untuk memahaminya. Apalagi hakikat Zat Uluhiyah dari Allah subhanahu wa ta’ala, akhirat, dan topik-topik seputar alam metafisika, semuanya merupakan bidang yang berada di luar kapasitas pemahaman akal dan indra. Sebagaimana manusia tidak akan mampu mengenal dan memahami hakikat Zat Uluhiyah-Nya melalui akal dan indra, mereka juga tidak akan mengetahui bagaimana cara menghamba kepada-Nya.


Perlu dipahami, bahwa agama Islam akan senantiasa dipelihara oleh Allah Swt. sebagai Pemiliknya hingga Hari Kiamat kelak. Sebab, Allah telah berjanji akan menjaga agama ini hingga Hari Penghabisan. Akan tetapi, menjaga dan mempertahankan agama ini secara personal dan kelompok sungguh sangat terkait erat dengan kemauan orang-orang yang beriman, serta keteguhan mereka untuk mau mempertahankannya. Allah „Azza wa Jalla akan membantu umat Islam di dalam merealisasikan tujuan dimaksud, asalkan mereka mau memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh-Nya. Jika mereka mau memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Allah, maka Allah pasti akan menepati janji-Nya. Dan hanya Allah satu-satunya Dzat Yang Maha Menepati janji.

Setiap mukmin harus menjaga agamanya secara baik. Jika mereka tidak bersedia menjaga agama yang sudah tersemat di dalam dadanya dengan baik, mereka tidak akan diberi kejayaan oleh Allah Swt.. Dengan kata lain, selama umat Islam mau berpegangteguh kepada ajaran agamanya, dan mau menyebarkan tugas sucinya secara baik, maka di saat itu mereka akan merasakan manisnya keimanan, manisnya hidup, dan manisnya bermasyarakat.

Allah Yang Maha Membantu telah membantu Rasul-Nya Saw., karena beliau senantiasa menjaga agama Islam dengan baik. Setelah beliau Saw. berpulang ke haribaan- Nya, maka generasi Islam berikutnya berkewajiban menjaga secara baik agama ini, sehingga Allah juga memberi kejayaan yang sama kepada mereka. Akan tetapi, ketika umat Islam mulai melupakan tugas suci mereka, maka Allah segera menghukum mereka dengan kehinaan; berdasarkan kepada ketetapan-Nya.


Perlu untuk segera dicermati, bahwa salah satu penyebab dibinasakan-Nya suatu kaum sangat berkaitan erat dengan pelaksanaan perintah amar ma‟ruf nahi munkar. Jika kita mempunyai pandangan seperti itu, kemudian kita melihat sejumlah kejadian dalam sejarah, maka dapat kita simpulkan sebagai berikut. Untuk menjamin kejayaan suatu masyarakat yang beriman, maka minimal ada dua perkara yang paling utama untuk dilakukan. Hubungan keduanya sangat berkaitan erat dengan kebinasaan suatu kaum.

Kesimpulannya, Allah Swt. tidak akan membinasakan suatu kaum yang masih menegakan amar ma‟ruf nahi munkar. Dan, mereka akan tetap diberi kejayaan serta kemenangan, meskipun jumlah mereka kecil (sedikit). Akan tetapi, jika tidak ada lagi sekelompok orang yang mau ber-amar ma‟ruf nahi munkar, maka Allah Yang Mahakuasa akan membinasakan kaum itu. Demikian pula andaikata ada masyarakat yang jumlahnya besar, dan kemunkaran serta kesesatan telah membudaya di antara mereka, meskipun ada sebagian dari mereka yang ber-amar ma‟ruf nahi munkar, pasti akan membinasakan mereka seluruhnya.

Tentang masalah ini, akan kami terangkan mengenai firman-firman Allah „Azza wa Jalla yang menyebutkan tentang hal itu. Di sini perlu pula kami sampaikan dengan penuh keyakinan, bahwa tidak akan ada yang dapat membinasakan suatu kaum yang beriman dan menegakkan amar ma‟ruf nahi munkar. Memang, suatu bangsa tidak akan selamat dari berbagai cobaan Allah Swt.; kecuali jika mereka menegakkan amar ma‟ruf nahi munkar. Mari kita sebutkan beberapa contoh berikut ini.


Seorang mukmin yang mengetahui berbagai macam keutamaan memberi petunjuk, niscaya akan menjelaskan kebenaran kepada masyarakat yang berada di sekitarnya. Ia akan menerangkan kebenaran kepada orang-orang yang terdekat dengannya, karena pekerjaan ini merupakan hakikat keimanannya. Juga merupakan jaminan atas keselamatan muslim lain dari gangguan lisan maupun tangannya yang akan menghasilkan perbuatan yang baik.

Jadi, orang-orang beriman yang satu dengan yang lain bagaikan satu tubuh, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis Rasulullah Saw.. Apabila ada bagian dari tubuh itu yang tengah menderita sakit, maka bagian tubuh lainnya pun akan ikut merasakan sakit. Karenanya, setiap mukmin harus peduli kepada sesama mukmin dalam kondisi apa pun. Seorang mukmin akan bergembira dengan kegembiraan saudaranya, dan akan ikut bersedih dengan kesusahan yang menimpa saudaranya.

Jika demikian kondisinya, bagaimana seorang mukmin tidak peduli dengan mukmin lainnya, apakah ia akan dimasukkan ke dalam surga, ataukah justru akan dimasukkan ke dalam neraka? Oleh karena itu, setiap Mukmin wajib menunaikan tugas sucinya, yaitu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, seperti yang telah disebutkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah berserta Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sebab sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (QS al-Taubah [9]: 71).


Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Seorang Muslim adalah siapa saja yang dapat menyelamatkan umat Islam dari gangguan lisan dan tangannya.”[1]

Dari sabda Rasulullah Saw. di atas dapat disimpulkan, bahwa setiap muslim tidak dapat meremehkan saudaranya sesama muslim, baik itu karena keunggulan harta, kehormatan, maupun kedudukannya. Demikian pula seorang yang mengaku diri sebagai muslim tidak diperkenankan berbuat sewenang-wenang terhadap sesamanya, yang itu dapat meremehkan kedudukan sesamanya.

Misalnya saja, seorang suami yang mempunyai hubungan sangat erat dengan istrinya, dengan demikian ia (sang suami) tidak diperkenankan untuk meremehkan sang istri sekehendaknya. Begitu pula sebaliknya, apabila seorang istri tidak pernah menutup auratnya dari laki-laki lain, maka ia akan menanggung dosa atas kesalahannya sendiri. Meski demikian, ia tidak diperkenankan sekehendaknya sendiri membuka auratnya di depan laki-laki lain.

1 2 3 9