Pennsylvania – Rambutnya sudah semakin memutih. Badannya sudah terlihat ringkih, jalannya pun agak tertatih-tatih. Seusai duduk memimpin kelas pengajian selama dua jam, pria yang kini berusia 75 tahun itu sempat menggerak-gerakkan kedua kakinya beberapa saat ketika berdiri setelah beranjak dari tempat duduknya. Diapun berjalan pelan menghampiri para pengikutnya.

Pria tua adalah Fethullah Gulen, ulama dan tokoh spiritual masyarakat Turki. Gaya bicaranya santun, tidak meledak-ledak, penuh hikmah. Melihat dari dekat sosok yang seorang hafiz Al Quran dan Al Hadits ini, tidak terlihat sedikitpun bahwa dia adalah otak kudeta 16 Juli 2016 seperti yang dituduhkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Dia menjadi dai sejak tahun 1960-an saat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dia datang menjelajahi kota-kota di Turki untuk menyampaikan pesan kebaikan dan berdakwah. Konsisten sebagai pendakwah dijalani Gulen hingga saat ini. Bahkan, dia telah mewakafkan hidupnya untuk kemajuan dakwah Islam, sehingga diapun tidak memikirkan berkeluarga. Dia tidak punya istri dan anak, namun memiliki jutaan pengikut. Dia juga pernah dipenjara selama enam bulan oleh pemerintah Turki pada tahun 1960-an.

Ulama Said Nursi Badruzzaman, seorang ulama asal Kurdi yang hidup pada 1878-1960 menjadi inspirasi Gulen. Buku tafsir Quran yang ditulis Said Nursi yang dikenal dengan kitab Risalah An Nur atau Kitab Badruzzaman, masih diajarkan Gulen kepada para jamaahnya hingga sekarang. Dia juga mengajarkan kitab-kitab lain seperti Sahih Muslim yang berisikan hadits-hadits riwayat Muslim.


REPUBLIKA.CO.ID, Tokoh kharismatik Turki itu tampak lemah karena sedang menderita penyakit komplikasi.Namun semangatnya masih begitu kuat seperti yang terlihat dari pancaran sinar matanya saat menatap setiap orang yang ditemui seraya menyampaikan salam.

Walau berjalan tertatih-tatih, ulama kenamaan Turki Muhammed Fethullah Gulen menghampiri beberapa wartawan Indonesia yang sedang bekunjung di asrama pengasingannya di Pennsylvania, Amerika Serikat.

“Assalamu’alaikum….,” begitu Gulen menyambut wartawan Indonesia dengan senyuman dan suara yang lirih namun jelas, dengan telapak tangan diletakkan di dadanya dalam ruangan tempat mengajarnya di Pennsylvania, Ahad (21/8).

Setelah mempersilakan wartawan duduk, Gulen yang dilahirkan di  Erzurum, Turki bagian timur pada tahun 1941 itu, kemudian memulai kuliah bagi sekitar 20 orang muridnya yang berasal bukan saja dari Turki tapi juga negara lain seperti Irak dan Pakistan.Aktivitas mengajarnya dimulai setelah lulus dari sekolah swasta di Erzurum dan memperoleh izin untuk berkhotbah.

Gulen mengajarkan pentingnya pemahaman dan toleransi. Upaya reformasi sosial membuatnya menjadi salah satu tokoh masyarakat Turki yang paling terkenal dan dihormati pada 1960-an.

Para wartawan turut mendengarkan kegiatan pengajian tersebut seraya menyantap gula-gula khas Turki di ruangan yang juga digunakan untuk shalat berjamaah.

Nampak kesabaran dan kesederhanaan saat Gulen yang duduk di kursi di hadapan muridnya yang bersila, membentuk lingkaran menjawab setiap pertanyaan dari muridnya.Menurut salah seorang juru bicaranya Osman Oztoprak, Gulen tampak sederhana karena memang dia berasal dari keluarga sederhana.

“Gulen sangat sederhana, dia tidak punya kemewahan seperti rumah atau mobil. Dia juga tidak punya jabatan di organisasi mana pun. Yang dia punya hanyalah buku-buku hasil karyanya dan ide-idenya,” kata Osman.


Oleh Syaikhul Islam* Sejak mangkatnya Gus Dur beberapa waktu lalu, saya terus dihantui keresahan akan masa depan dan bahkan kerisauan atas jati diri saya sendiri. Saya tidak berpikir untuk meributkan gelar pahlawan untuk beliau, tidak pula terbersit untuk mendebatkan benar tidaknya kewalian beliau. Alih-alih untuk meratapi kepergian beliau, untuk berziarah ke makamnya yang sudah dikunjungi puluhan ribu orang itu pun saya belum tergerak. Semua itu karena saya lebih kehilangan sosok Gus Dur sebagai seorang intelektual dan pemimpin bukan sebagai ratu adil atau satrio piningit apalagi wali. Seperti kata orang bijak: “tidak ada orang sempurna dalam segala hal, tidak ada orang hebat dalam segala bidang” banyak sisi dari Gus Dur yang sampai saat ini belum atau tidak bisa saya terima.

Sosok Gus Dur memang unik. Gabungan antara pemikir yang idealis dan pemimpin yang populis. Seseorang yang mencetuskan gagasan visioner sekaligus menyulap implikasi gagasan tersebut hadir ke alam nyata. Seorang berjiwa pengayom khas korps Kiai tetapi bisa juga lihai dan piawai melebihi politikus sejati. Beberapa orang beranggapan sosok seperti Gus Dur belum tentu ada satu dalam seratus tahun, dan tampaknya diam-diam saya mengamini anggapan ini. Seketika itu minat saya untuk membaca tulisan-tulisan Gus Dur menjadi sangat besar. Dan betapa kecewanya saya karena tulisan-tulisan beliau yang saya jumpai, belum mampu mengobati kehausan saya kepada sosok seperti beliau.


Sebuah pepatah dari Timur Tengah mengatakan, “Seorang anak membutuhkan seluruh kampung utuh untuk menjaga dan memeliharanya.”

Pepatah ini seolah ingin mengatakan bahwa menjaga dan memelihara anak bukanlah perkara yang gampang. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan buku yang cukup menarik yang ditulis oleh Fethullah Gulen, ulama kharismatik dari Turki. Saya bersyukur bisa memilik buku kecil tersebut. Meski hanya 44 halaman, namun apa-apa yang dituangkan Fethullah Gulen di dalamnya sangat bergizi.

Buku tipis yang berjudul Pendidikan Agama pada Anak (Religious Education of the Child) tersebut memberikan pengetahuan yang tak sederhana bagi orangtua tentang bagaimana mestinya ia mendidik anaknya dalam bingkai agama. Ada banyak hal dan cara atau tips yang harus orang tua lakukan untuk mendidik anak-anaknya. Saya akan mencoba sedikit memberikan ringkasan terhadap apa-apa yang menjadi poin penting dalam buku tersebut, tentunya dalam pembacaan saya pribadi.

Pertama, menanamkan keimanan yang teguh pada diri mereka. Kita mesti memberi tahu sebanyak mungkin mengenai bukti keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, jika ingin anak-anak menjadi anak yang beriman, segala perilaku dan kepekaan kita dalam hal-hal tertentu, seperti bagaimana kita pergi tidur, bagaimana kita mengharuskan diri kita sendiri beribadah, dan sebagainya, harus selalu mencerminkan keyakinan kita kepada Allah.

Kedua, mengisi hati mereka dengan cinta kepada Allah dan Rasulllah saw. Hal tersebut menurut Fethullah Gulen ialah salah satu kewajiban orang tua. Memupuk rasa cinta pada Allah, merupakan keharusan dan rasa hormat kita terhadap inti agama Islam. Dengan demikian, lanjut Gulen, mereka akan melihat bahwa tiada ada yang harus dengan sungguh-sungguh dicintai, dicari, atau dirindukan selain Allah.


REPUBLIKA.CO.ID,
Pendidikan menjadi fokus utama Fethullah Gulen untuk mendidik generasi bangsa yang berakhlak mulia. Melalui keikhlasan murid-muridnya yang tergabung dalam Gulen Movement, kini buah pikiran pemikir asal Turki ini menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Wartawan Republika Syahruddin El-Fikri, melalui Fethullah Gulen Chair di Jakarta, berkesempatan mengunjungi sejumlah lembaga pendidikan yang dikelola para anggota hizmet (sebutan untuk murid-murid Fethullah Gulen) di Johannesburg dan Pretoria, Afrika Selatan, pada 22-28 Februari lalu. Berikut catatan perjalanannya.

***
Menyebut nama Fethullah Gulen di Indonesia, mungkin belum banyak yang mengenalnya. Bahkan, para cendekiawan Muslim di Indonesia pun mungkin tak tahu sosoknya. Jangankan untuk mengenal profilnya, pola pikirnya pun mungkin sebagian tak mengetahui.

Hal ini wajar mengingat Fethullah Gulen memang bukan orang Indonesia. Bahkan, karya-karyanya pun belum banyak diterjemahkan di Indonesia. Padahal, sosok ulama, pemikir, sekaligus mujtahid asal Turki ini sudah menelorkan 77 karya yang sangat fenomenal. Karyanya itu sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Arab, Urdu, India, Inggris, Jerman, Prancis, Melayu, Indonesia, dan Cina.

Sebanyak tujuh karyanya telah diterjemahkan di Indonesia dan diterbitkan Republika Penerbit. Di antaranya Qadar; Di Tangan Siapakah Takdir Atas Diri Kita?, 2011; Dakwah, 2011; Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, 2011; Cahaya Al-Qur’an, 2011; dan Cahaya Abadi Muhammad SAW (3 jilid, 2012).

Hal ini menunjukkan Fethullan Gulen adalah sosok pemikir yang luar biasa, ulama yang mumpuni dalam segala bidang. Sebab, hoca efendi (panggilan murid-muridnya untuk Fethullah Gulen yang berarti guru yang mulia), menguasai berbagai ilmu pengetahuan, baik umum (fisika, kimia, filsafat, matematika, psikologi, dan sejarah) maupun agama (fikih, usul fikih, akidah, dan mualamah).


Atlanta – Ulama asal Turki, Fethullah Gulen, telah lama memprakarsasi gerakan Hizmet, pelayanan pada umat manusia tanpa berharap balas demi kebaikan. Gerakan ini membuat Gulen akhirnya diganjar Gandhi King Ikeda Peace Award 2015.

Sang ulama ini telah jauh hari mempromosikan perdamaian dan kesamaan HAM. Lahir di Provinsi Erzurum tahun 1941, putra pasangan Ramiz Gulen dan Refia Gulen sudah sangat haus akan pengetahuan sejak muda, baik ilmu pengetahuan umum, sains hingga agama.

Dia juga melahap karya sastra klasik Barat seperti Les Miserables, Of Mice and Man dan berbagai karya sastra klasik Barat yang meningkatkan pemahamannya dengan dunia Barat. Dia juga menikmati musik klasik Turki, mengagumi pelukis Pablo Picasso dan Da Vinci.

Sebagai seorang yang haus ilmu, dia meraih lisensi alim ulama pada usia 21 dan menjadi dosen di Provinsi Edirne dan diizinkan berkhotbah di Erzurum karena prestasinya yang luar biasa sebagai mahasiswa. Di akhir 1950-an, Gulen berkenalan dengan pemikiran cendekiawan muslim Turki lain, Saud Nursi. Nursi mendiagnosa bahwa kunci masalah di dunia Islam dan kemanusiaan adalah kemiskinan, kebodohan dan perpecahan. Nursi berpendapat, bahwa masalah ini harus ditangani lebih dulu bila ingin nilai-nilai kemanusiaan dibangkitkan. Pemikiran Nursi ini akhirnya mempengaruhi pemikiran Gulen dalam isu-isu kontemporer.

Akhirnya, pemikiran Gulen yang menyentuh isu-isu sosial, ekonomi, pendidikan, ilmiah hingga spiritual mendapatkan perhatian luar biasa di antara para ulama lainnya. Tak cuma berceramah, memberikan nasihat, Gulen mendorong pentingnya aktivitas sosial dan mendorong warga negara untuk bergerak menangani masalah-masalah itu dengan kegiatan sukarelawan dibanding mengharapkan pemerintah menanggulangi semuanya.


Hubungan Turki dengan Muhammadiyah telah terjalin sejak lama. Bahkan antara Kedutaan Turki di Jakarta dengan ketua umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin, terjalin sangat akrab. Hal itu membuat rasa penasaran, Director of Fethulla Gulen Chair, Dr Ali Unsal, untuk melihat secara langsung salah satu kampus milik Muhammadiyah yang sering didengarnya lewat Din.

Rasa penasaran itu terobati ketika Unsal mengunjungi kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/1). Bersama tiga orang stafnya, Unsal berdialog dengan Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) UMM, Abdul Haris, dan beberapa dosen FAI.

“Sudah lama saya mendengar nama UMM dari pak Din, baru kali ini saya betul-betul kagum, ternyata kampusnya indah dan besar,” puji Unsal sebelum memulai mengenalkan sosok Fethullah Gulen sang tokoh perubahan di Turki yang mewarnai keislaman masyarakatnya.

Gulen, kata Unsal, adalah tokoh dari Turki yang sangat berperan besar di dunia Islam. Di Turki yang dikenal sekuler, Gulen berhasil merubah pandangan mengenai pendidikan Islam, kejujuran, kesederhanaan, serta keadilan.

Gulen memiliki perhatian yang besar pada generasi Islam di masa datang. “Beliau selalu mengingatkan kepada kita, peliharalah generasi penerus,” kata Unsal. Oleh karena peranannya yang sangat besar itulah dia ingin memperkenalkan tokoh itu menjadi tokoh Islam dunia.


Akhir-akhir ini gairah keberagamaan telah kembali semarak, setalah berpuluh tahun hilang ditekan berbagai rezim penguasa. Berbagai atribut keagamaan semakin bangga dipertontonkan. Simbol-simbol spiritual makin jamak dilihat.

Harusnya ini merupakan kabar baik, namun sayangnya tidak. Kegairahan itu telah salah jalan. Semakin semaraknya gairah keberagamaan itu sayangnya dibarengi pula dengan semakin menguatnya isu-isu identitas di ruang publik.

Islam, agama yang harusnya mengajarkan akhlak, cinta dan kasih, justru dipelintir, digunakan sedemikian rupa untuk menjadi alat-alat meraih kekuasaan semata. Hal ini meningkatkan isu-isu intoleransi secara drastis. Di ruang publik, umat Islam seolah tampil sangat gahar, penuh amuk, dan marah.

Seolah ingin menang, paling benar, dan memaksakan kehendaknya sendiri di tengah keberagaman masyarakat yang ada di Indonesia. Dan aroma kebencian itu terus terasa hingga hari ini.

Kondisi itu justru mengingatkan saya pada seorang intelektual muslim besar di negeri Turki. Dia dengan nilai-nilai cinta dan toleransi, serta gerakan sosialnya yang menggeliat di ratusan negara di dunia, sudah selayaknya menjadi teladan bagi umat Islam di Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan beliau adalah Fethullah Gulen. Sang pelopor Gulen Movement di seuruh penjuru dunia.


Saya mendengar bahwa telah terjadi sebuah pembunuhan atas Samuel Paty secara sangat sadis di sebuah daerah di Paris baru-baru ini dan kabar ini amat mengguncang kedalaman hati saya. Betapa pedihnya bahwa saya merasa sangat terperangah saat mendengar bahwa di sebuah kota lain di Prancis, di sebuah tempat ibadah, pada saat ibadah dilakukan, juga terjadi penyerangan dengan pisau yang berakhir dengan pembunuhan bengis. Saya ingin mengungkapkan secara terbuka, bahwa kenyataan ketika para pelaku pelanggaran pada dua peristiwa ini menggunakan argumen-argumen Islami sebagai slogan-slogan agama, lebih membuat kesedihan saya semakin dalam.

‘TERLIBAT DALAM KEKERASAN SAMPAI KAPAN PUN SAMA SEKALI  TAK BISA DISETUJUI’

Dapat dipahami bahwa kaum muslimin yang meyakini dan menghormati semua nabi dan rasul yang datang dan pergi sejak zaman Nabi Adam, mengharapkan adanya sikap penghormatan dari lawan bicaranya terhadap sayyidina Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi wa sallam), sebuah hal khusus yang dapat dipahami jika ada rasa terganggu saat mendapati ungkapan dan tindakan tak pantas terhadap Beliau dan tentu saja selalu ada cara-cara positif untuk mengungkapkan perasaan terganggu ini pada dasar, diplomasi dan aturan-aturan hukum kemanusiaan. Dalam hal ini, sampai kapan pun terlibat dalam kekerasan sama sekali tak bisa disetujui.


Belum lagi pulih luka yang disebabkan oleh penyerangan keji yang terjadi di Paris, wajah kejam terorisme yang menyebabkan empat orang tewas dan banyak orang terluka pun, kembali muncul dalam sebuah penyerangan di Vienna.

Saya mengungkapkan ucapan belasungkawa kepada seluruh masyarakat Austria terutama kepada keluarga dekat yang menjadi korban dan juga kesembuhan bagi mereka yang terluka.

Apapun agama atau keyakinan seseorang, manusia adalah makhluk yang luhur dan kehidupannya pun bernilai suci. Al-Qur’an mengungkapkan dengan jelas bahwa di hadapan Allah ta’ala, menghilangkan satu nyawa merupakan pembunuhan keji, sama seperti membunuh seluruh manusia.

Penyerangan dan tindak kekerasan bukanlah jalan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak bisa dikaitkan dengan nilai-nilai Islam, meski dilakukan atas nama agama sekalipun! Seorang muslim yang memusatkan dirinya untuk meraih ridha Allah ta’ala tidaklah mungkin menjadi teroris. Begitu juga teroris yang mencoba menghiasi pembunuhan yang dilakukannya atas nama ‘jihad’, meski mereka menyerukan Nama Agung Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, tidaklah mungkin menyandarkan dirinya sebagai seorang muslim!